Selasa, 13 April 2021

UJI AKTIVITAS ANTI BAKTERI TERHADAP ANTIBIOTIK

 LAPORAN PRAKTIKUM UJI AKTIVITAS ANTI

BAKTERI TERHADAP ANTIBIOTIK





DISUSUN OLEH:

           NAMA                   : Annisya Zahara

NPM                     : F0I020100

KELAS                 : 1B                   

NAMA DOSEN : SUCI RAHMAWATI, M.Farm, Apt.

 

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI & PARASITOLOGI

PRODI D3 FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS BENGKULU

TAHUN AKADEMIK 2021/2022



A.     Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum kali ini yaitu untuk mengetahui teknik uji sensitivitas

B.     Landasan Teori

Antibakteri adalah senyawa yang digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan bakteri yang bersifat merugikan. Pengendalian pertumbuhan mikroorganisme bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit dan infeksi, membasmi mikroorganisme pada inang yang terinfeksi, dan mencegah pembusukan serta perusakan bahan oleh mikroorganisme (Sulistyo, 1971).

Antibiotika berspektrum luas dapat menimbulkan super infeksi yang dipicu oleh penurunan daya tahan tubuh pasien atau terlalu lama menggunakan antibiotika (Tanu, 2009).

Mekanisme penghambatan terhadap pertumbuhan bakteri oleh senyawa antibakteri dapat berupa perusakan dinding sel dengan cara menghambat pembentukannya atau mengubahnya setelah selesai terbentuk, perubahan permeabilitas membran sitoplasma sehingga menyebabkan keluarnya bahan makanan dari dalam sel, perubahan molekul protein dan asam nukleat, penghambatan kerja enzim, dan penghambatan sintesis asam nukleat dan protein. Di bidang farmasi, bahan antibakteri dikenal dengan nama antibiotik, yaitu suatu substansi kimia yang dihasilkan oleh mikroba dan dapat menghambat pertumbuhan mikroba lain. Senyawa antibakteri dapat bekerja secara bakteriostatik, bakteriosidal, dan bakteriolitik (Pelczar dan Chan, 1988)

Uji sentifitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas antibakteri . Metode uji sensitivitas Bakteri adalah metode cara bagaimana mengetahui dan mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai bahan antibakteri serta mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri pada konsentrasi yang rendah.  Seorang ilmuwan dari Perancis menyatakan bahwa metode difusi agar dari produksi Kirby Bauer, sering digunakan untuk mengetahui sensitifitas bakteri. Prinsip dari metode ini adalah penghambatan terhadap pertumbuhan mikroorganisme, yaitu zona hambatan akan terlihat sebagai daerah jernih di sekitar cakram kertas yang mengandung zat antibakteri. Diameter zona hambatan pertumbuhan bakteri menunjukkan sensitivitas bakteri terhadap zat antibakteri. Selanjutnya dikatakan bahwa semakin lebar diameter zona hambatan yang terbentuk bakteri tersebut semakin sensitif (Waluyo, 2008) .

Sensitifitas adalah suatu keadaan dimana mikroba sangat peka terhadap antibiotik atau sensitifitas adalah apakah suatu antibiotik yang masih baik untuk memberikan daya hambat terhadap mikroba. Uji sensitifitas terhadap suatu antimikroba untuk dapat menunjukkan pada kondisi yang sesuai dengan efek daya hambat nya terhadap mikroba. Suatu penurunan aktivitas antimikroba akan dapat menunjukkan perubahan kecil yang tidak dapat ditunjukkan oleh metode kimia sehingga pengujian secara mikrobiologis dan biologi dilakukan. Biasanya metode yang merupakan standar untuk mengatasi keraguan tentang kemungkinan hilangnya aktivitas antimikroba (Djide, 2008).

Antibiotik  merupakan  senyawa  aktif  yang  dalam  konsentrasi  rendah  dapat membunuh  ataupun  menghambat  pertumbuhan  dan  aktivitas  metabolisme  bakteri tertentu.  Berbeda  dari  bakteriosin  yang  merupakan  metabolit  primer  peptida  hasil sintesis  di  ribosom, antibiotik  termasuk  metabolit  sekunder  yang  dihasilkan  saat  sel berada  pada  fase  stasioner.  Secara  umum,  antibiotik  bekerja  dengan  berbagai  cara seperti  menghambat  sintesis  dinding  sel,  mengganggu  sintesis  protein  tertentu, menghambat  sintesis  membran  sel,  merusak  asam  nukleat,  dan  mengganggu  kerja enzim  (menjadi inhibitor  kompetitif). Adapun  berdasarkan  kelasnya,  antibiotik  dapat dibedakan  menjadi  beta  lactams  (seperti  penisilin  dan  cephalosporin),  macrolides, tetracylines, dan aminoglycosides (Arora et al. 2013).

Hingga saat ini sekitar 4000 jenis antibiotik telah berhasil diisolasi namun hanya  50  yang  dapat  diterima  dan  digunakan  dalam  dunia  kesehatan.  Hal  ini dikarenakan  kebanyakan  antibiotik  yang  ditemukan  gagal  memenuhi  syarat  utama  untuk dikomersilkan  seperti  bersifat  toksin  bagi  manusia  dan  hewan,  kurang  efektif,  dan produksinya  membutuhkan  biaya  yang  mahal.  Berbagai  jenis  antibiotik  tersebut umumnya diisolasi dari mikrob tertentu yang dapat memproduksi bahan aktif tersebut dalam bentuk senyawa metabolit sekunder (Sya’lan et al. 2014).

Antibiotik yang umumnya banyak digunakan dalam dunia farmasi berasal dari kelompok fungi genus Penicillium, Streptomyces, Cephalosporium, dan Micomonopora serta  bakteri  genus  Bacillus  (Sethi  et  al.  2013).

Namun,  meskipun  telah  banyak antibiotik  yang  diperoleh  dan  diaplikasikan,  kasus  resistensi  bakteri  patogen  pun semakin  meningkat  dikarenakan  tingginya  penggunaan  antibiotik  dan  obat-obatan secara non-medis yang tidak mengikuti aturan penggunaannya secara tepat (Cetina et al. 2010).

 Contoh  dari  bakteri  patogen  tersebut  adalah  Enterococcus  faecium, Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumoniae, Acinetobacter baumanni, Pseudomonas aeruginosa, dan spesies Enterobacter (Melander RJ dan Melander C 2017).

Berbagai  usaha  terus  dilakukan  untuk  menghasilkan  senyawa  antibiotik  yang lebih bervariasi,  baik  dalam  aktivitas,  mode  aksi,  ataupun  struktur  kimianya  guna mengimbangi  tingginya  tingkat  resistensi bakteri  patogen (Cetina  et al.  2010).

 

 

C.     Alat dan Bahan

·         Alat :

1)      Erlenmeyer

2)      Bunsen

3)      Cawan Petri

4)      Pipet Tetes

5)      Rak Tabung Reaksi

6)      Pinset

7)      Beaker Glass

8)      Tabung Reaksi

9)      Timbangan

10)  Pembolong Kertas

11)  Autoklaf

12)  Inqubator

13)  Mortir & Stamper

14)  Vorter Mixer

15)  Koran

16)  Hot plate

 

·         Bahan :

1)      Aquadest

2)      Alkohol

3)      Nutrient Agar (NA)

4)      Amoxicilin

 

D.     Prosedur Kerja

1.    Lakukan sterilisasi alat menggunakan autoklaf, bungkus alat menggunakan koran kecuali rak tabung reaksi. Lalu sterilisasikan selama 15 menit pada suhu 121C atau dengan tekanan 1 atm

2.    Setelah suhu sampai di 121C matikan autoklaf, dan tunggu hingga 15 menit, jangan lupa untuk buka katup uapnya

3. Nyalankan hotplate dan panaskan Nutrient Agar (NA)

4. Setelah semua alat di sterilisasi, hidupkan Bunsen dan buka pembungkusnya di tengah Bunsen agar alat tidak terkontaminasi

5.  Lalu masukkan NA kedalam cawan petri

6.  Lalu gerus amoxicillin lalu timbang menjadi 10 gram, 15 gram dan 20 gram

7.  Masukkan amoxicillin ke dalam gelas ukur, dan homogenkan menggunakan vortex mixer

8.    Sterilkan pinset , lalu sterilkan cawan petri menggunakan alcohol dan tandai atau bagi menjadi 4 bagian

9. Lalu celupkan cakram kedalam aquadest, tandai control negative

10. Lalu celupkan cakram kedalam tabung reaksi control negative 10, 15, 20 dan tandai pada cawan petri

11. Setelah itu masukkan sampel ke dalam inqubator selama 1 x 24 jam lalu amati hasilnya

  

 

 

E.  Hasil

 




                   



 

Dalam praktikum yang dilakukan di dapatkan hasil seperti digambar, dimana semuanya terdapat clearzone, tetapi di control negative 15 hanya sedikit terdapat clearzone .


 


F.  Pembahasan

Dari hasil yang praktikum yang telah dilakukan bahwa Antibakteri adalah senyawa yang digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan bakteri yang bersifat merugikan. Pengendalian pertumbuhan mikroorganisme bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit dan infeksi, membasmi mikroorganisme pada inang yang terinfeksi, dan mencegah pembusukan serta perusakan bahan oleh mikroorganisme.

 Uji sentifitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas antibakteri . Metode uji sensitivitas Bakteri adalah metode cara bagaimana mengetahui dan mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai bahan antibakteri serta mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri pada konsentrasi yang rendah. 

Pada praktikum kali ini menggunakan metode difusi. Pada metode difusi prinsipnya adalah terdifusinya senyawa antimikroba ke dalam media padatyang telah diinokulasi dengan bakteri. Metode difusi dapat dilakukan dengan cara cakram atau sumuran. Pada metode difusi cakram, kertas cakram yang mengandung antibiotik diletakkan di atas media yang telah mengandung mikroba, kemudian diinkubasi dan dibaca hasilnya berdasarkan kemampuan penghambatan mikroba di sekitar kertas cakram. Metode difusi sumuran dilakukan dengan membuat sumuran dengan diameter tertentu pada media agar yang sudah ditanami bakteri.

Adapun dari praktikum yang dilakukan di dapatkan hasil seperti digambar, dimana semuanya terdapat clearzone, tetapi di control negative 15 hanya sedikit terdapat clearzone .

 

 

 

 

G.  Kesimpulan Dan Saran

-          Kesimpulan

Dari hasil praktikum yang telah dilakukan di dapat disimpulankan sebagai berikut :

1)     Uji sentifitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas antibakteri.

2)     dalam metode uji sensitifitas bakteri ini dapat mengetahui dan mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai bahan anti bakteri serta mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri pada konsentrasi yang rendah.

3)    dari hasil digambar terlihat semua sampel terdapat clearzone, dan hanya dicontrol negative 15 hanya sedikit terdapat clearzone .

 

-       Saran

Saran saya dalam melakukan praktikum ini sebaiknya selalu berhati-hati didalam laboratorium dan pastikan lakukan sterilisasi alat terlebih dahulu supaya hasil yang didapat sesuai dan tepat. Serta jangan lupa selalu menerapkan protocol kesehatan .

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Pelczar MJ, Chan ECS. 1988 Dasar-dasar mikrobiologi 2. Diterjemahkan oleh Hadioetomo RS, Imas T, Tjitrosomo SS, Angka SL. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia;. hal. 489-522.

Arora S,  Nandi D, Prasad N, Rawat  S, Pandey A,  University GE, Dehradun, Science  ML. 2013. Isolation and characterization of antibiotic producing microbes present in rhizospheric soil. Internat J Sci Engineer Res. 4(9):1157-1166.

Cetina A, Matos A, Garma G, Barba H, Vazquez R, Rodriguez AZ, Jay D, Monteon V, Lopez R. 2010. Antimicrobial activity  of marine  bacteria isolated  from  Gulf  of  Mexico. Rev Peru Biol. 17(2):231-236.

Djide. M, Natsir 2008. Dasar-dasar Mikrobiologi. Universitas Hasanuddin. Makasar.

Melander RJ, Melander C. 2017. The challenge of overcoming antibiotic resistence: an adjuvant approach?. Americ Chem Soc. 12(2017):1-5.

Prasetyono. 2012. Buku Pintar ASI Eksklusif. Yogya : Diva Press

Sethi S, Kumar R, Gupta S. 2013. Antibiotic production by microbes isolated from soil. Internat J Pharm Sci Res. 4(8):2967-2973.

Sya'lan  A,  Mahimid  RS,  Atibi  RM,  Nasir  Z.  2014.  Isolation  and  identification  of antibiotic producing microorganisms. 492MIC. 1:1-17

Tanu, I. 2009. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta: Universitas Indonesia

Waluyo, Lud. 2008. Teknik dan Metode Dasar Dalam Mikrobiologi. Malang. UMM Press.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar