LAPORAN PRAKTIKUM UJI AKTIVITAS ANTI
BAKTERI TERHADAP ANTIBIOTIK
DISUSUN OLEH:
NAMA : Annisya Zahara
NPM : F0I020100
KELAS : 1B
NAMA DOSEN : SUCI RAHMAWATI, M.Farm, Apt.
LABORATORIUM MIKROBIOLOGI & PARASITOLOGI
PRODI D3 FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BENGKULU
TAHUN AKADEMIK 2021/2022
A. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum kali ini yaitu untuk mengetahui teknik uji sensitivitas
B. Landasan Teori
Antibakteri adalah senyawa yang digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan bakteri yang bersifat merugikan. Pengendalian pertumbuhan mikroorganisme bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit dan infeksi, membasmi mikroorganisme pada inang yang terinfeksi, dan mencegah pembusukan serta perusakan bahan oleh mikroorganisme (Sulistyo, 1971).
Antibiotika berspektrum luas dapat menimbulkan super infeksi yang dipicu oleh penurunan daya tahan tubuh pasien atau terlalu lama menggunakan antibiotika (Tanu, 2009).
Mekanisme penghambatan terhadap pertumbuhan bakteri oleh senyawa antibakteri dapat berupa perusakan dinding sel dengan cara menghambat pembentukannya atau mengubahnya setelah selesai terbentuk, perubahan permeabilitas membran sitoplasma sehingga menyebabkan keluarnya bahan makanan dari dalam sel, perubahan molekul protein dan asam nukleat, penghambatan kerja enzim, dan penghambatan sintesis asam nukleat dan protein. Di bidang farmasi, bahan antibakteri dikenal dengan nama antibiotik, yaitu suatu substansi kimia yang dihasilkan oleh mikroba dan dapat menghambat pertumbuhan mikroba lain. Senyawa antibakteri dapat bekerja secara bakteriostatik, bakteriosidal, dan bakteriolitik (Pelczar dan Chan, 1988)
Uji sentifitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas antibakteri . Metode uji sensitivitas Bakteri adalah metode cara bagaimana mengetahui dan mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai bahan antibakteri serta mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri pada konsentrasi yang rendah. Seorang ilmuwan dari Perancis menyatakan bahwa metode difusi agar dari produksi Kirby Bauer, sering digunakan untuk mengetahui sensitifitas bakteri. Prinsip dari metode ini adalah penghambatan terhadap pertumbuhan mikroorganisme, yaitu zona hambatan akan terlihat sebagai daerah jernih di sekitar cakram kertas yang mengandung zat antibakteri. Diameter zona hambatan pertumbuhan bakteri menunjukkan sensitivitas bakteri terhadap zat antibakteri. Selanjutnya dikatakan bahwa semakin lebar diameter zona hambatan yang terbentuk bakteri tersebut semakin sensitif (Waluyo, 2008) .
Sensitifitas adalah suatu keadaan dimana mikroba sangat peka terhadap antibiotik atau sensitifitas adalah apakah suatu antibiotik yang masih baik untuk memberikan daya hambat terhadap mikroba. Uji sensitifitas terhadap suatu antimikroba untuk dapat menunjukkan pada kondisi yang sesuai dengan efek daya hambat nya terhadap mikroba. Suatu penurunan aktivitas antimikroba akan dapat menunjukkan perubahan kecil yang tidak dapat ditunjukkan oleh metode kimia sehingga pengujian secara mikrobiologis dan biologi dilakukan. Biasanya metode yang merupakan standar untuk mengatasi keraguan tentang kemungkinan hilangnya aktivitas antimikroba (Djide, 2008).
Antibiotik merupakan senyawa aktif yang dalam konsentrasi rendah dapat membunuh ataupun menghambat pertumbuhan dan aktivitas metabolisme bakteri tertentu. Berbeda dari bakteriosin yang merupakan metabolit primer peptida hasil sintesis di ribosom, antibiotik termasuk metabolit sekunder yang dihasilkan saat sel berada pada fase stasioner. Secara umum, antibiotik bekerja dengan berbagai cara seperti menghambat sintesis dinding sel, mengganggu sintesis protein tertentu, menghambat sintesis membran sel, merusak asam nukleat, dan mengganggu kerja enzim (menjadi inhibitor kompetitif). Adapun berdasarkan kelasnya, antibiotik dapat dibedakan menjadi beta lactams (seperti penisilin dan cephalosporin), macrolides, tetracylines, dan aminoglycosides (Arora et al. 2013).
Hingga saat ini sekitar 4000 jenis antibiotik telah berhasil diisolasi namun hanya 50 yang dapat diterima dan digunakan dalam dunia kesehatan. Hal ini dikarenakan kebanyakan antibiotik yang ditemukan gagal memenuhi syarat utama untuk dikomersilkan seperti bersifat toksin bagi manusia dan hewan, kurang efektif, dan produksinya membutuhkan biaya yang mahal. Berbagai jenis antibiotik tersebut umumnya diisolasi dari mikrob tertentu yang dapat memproduksi bahan aktif tersebut dalam bentuk senyawa metabolit sekunder (Sya’lan et al. 2014).
Antibiotik yang umumnya banyak digunakan dalam dunia farmasi berasal dari kelompok fungi genus Penicillium, Streptomyces, Cephalosporium, dan Micomonopora serta bakteri genus Bacillus (Sethi et al. 2013).
Namun, meskipun telah banyak antibiotik yang diperoleh dan diaplikasikan, kasus resistensi bakteri patogen pun semakin meningkat dikarenakan tingginya penggunaan antibiotik dan obat-obatan secara non-medis yang tidak mengikuti aturan penggunaannya secara tepat (Cetina et al. 2010).
Contoh dari bakteri patogen tersebut adalah Enterococcus faecium, Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumoniae, Acinetobacter baumanni, Pseudomonas aeruginosa, dan spesies Enterobacter (Melander RJ dan Melander C 2017).
Berbagai usaha terus dilakukan untuk menghasilkan senyawa antibiotik yang lebih bervariasi, baik dalam aktivitas, mode aksi, ataupun struktur kimianya guna mengimbangi tingginya tingkat resistensi bakteri patogen (Cetina et al. 2010).
C. Alat dan Bahan
· Alat :
1) Erlenmeyer
2) Bunsen
3) Cawan Petri
4) Pipet Tetes
5) Rak Tabung Reaksi
6) Pinset
7) Beaker Glass
8) Tabung Reaksi
9) Timbangan
10) Pembolong Kertas
11) Autoklaf
12) Inqubator
13) Mortir & Stamper
14) Vorter Mixer
15) Koran
16) Hot plate
· Bahan :
1) Aquadest
2) Alkohol
3) Nutrient Agar (NA)
4) Amoxicilin
D. Prosedur Kerja
1. Lakukan sterilisasi alat menggunakan autoklaf, bungkus alat menggunakan koran kecuali rak tabung reaksi. Lalu sterilisasikan selama 15 menit pada suhu 121o C atau dengan tekanan 1 atm
2. Setelah suhu sampai di 121o C matikan autoklaf, dan tunggu hingga 15 menit, jangan lupa untuk buka katup uapnya
3. Nyalankan hotplate dan panaskan Nutrient Agar (NA)
4. Setelah semua alat di sterilisasi, hidupkan Bunsen dan buka pembungkusnya di tengah Bunsen agar alat tidak terkontaminasi
5. Lalu masukkan NA kedalam cawan petri
6. Lalu gerus amoxicillin lalu timbang menjadi 10 gram, 15 gram dan 20 gram
7. Masukkan amoxicillin ke dalam gelas ukur, dan homogenkan menggunakan vortex mixer
8. Sterilkan pinset , lalu sterilkan cawan petri menggunakan alcohol dan tandai atau bagi menjadi 4 bagian
9. Lalu celupkan cakram kedalam aquadest, tandai control negative
10. Lalu celupkan cakram kedalam tabung reaksi control negative 10, 15, 20 dan tandai pada cawan petri
11. Setelah itu masukkan sampel ke dalam inqubator selama 1 x 24 jam lalu amati hasilnya
E. Hasil
Dalam praktikum yang dilakukan di dapatkan hasil seperti digambar, dimana semuanya terdapat clearzone, tetapi di control negative 15 hanya sedikit terdapat clearzone .
F. Pembahasan
Dari hasil yang praktikum yang telah dilakukan bahwa Antibakteri adalah senyawa yang digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan bakteri yang bersifat merugikan. Pengendalian pertumbuhan mikroorganisme bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit dan infeksi, membasmi mikroorganisme pada inang yang terinfeksi, dan mencegah pembusukan serta perusakan bahan oleh mikroorganisme.
Uji sentifitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas antibakteri . Metode uji sensitivitas Bakteri adalah metode cara bagaimana mengetahui dan mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai bahan antibakteri serta mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri pada konsentrasi yang rendah.
Pada praktikum kali ini menggunakan metode difusi. Pada metode difusi prinsipnya adalah terdifusinya senyawa antimikroba ke dalam media padatyang telah diinokulasi dengan bakteri. Metode difusi dapat dilakukan dengan cara cakram atau sumuran. Pada metode difusi cakram, kertas cakram yang mengandung antibiotik diletakkan di atas media yang telah mengandung mikroba, kemudian diinkubasi dan dibaca hasilnya berdasarkan kemampuan penghambatan mikroba di sekitar kertas cakram. Metode difusi sumuran dilakukan dengan membuat sumuran dengan diameter tertentu pada media agar yang sudah ditanami bakteri.
Adapun dari praktikum yang dilakukan di dapatkan hasil seperti digambar, dimana semuanya terdapat clearzone, tetapi di control negative 15 hanya sedikit terdapat clearzone .
G. Kesimpulan Dan Saran
- Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan di dapat disimpulankan sebagai berikut :
1) Uji sentifitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas antibakteri.
2) dalam metode uji sensitifitas bakteri ini dapat mengetahui dan mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai bahan anti bakteri serta mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri pada konsentrasi yang rendah.
3) dari hasil digambar terlihat semua sampel terdapat clearzone, dan hanya dicontrol negative 15 hanya sedikit terdapat clearzone .
- Saran
Saran saya dalam melakukan praktikum ini sebaiknya selalu berhati-hati didalam laboratorium dan pastikan lakukan sterilisasi alat terlebih dahulu supaya hasil yang didapat sesuai dan tepat. Serta jangan lupa selalu menerapkan protocol kesehatan .
DAFTAR PUSTAKA
Pelczar MJ, Chan ECS. 1988 Dasar-dasar mikrobiologi 2. Diterjemahkan oleh Hadioetomo RS, Imas T, Tjitrosomo SS, Angka SL. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia;. hal. 489-522.
Arora S, Nandi D, Prasad N, Rawat S, Pandey A, University GE, Dehradun, Science ML. 2013. Isolation and characterization of antibiotic producing microbes present in rhizospheric soil. Internat J Sci Engineer Res. 4(9):1157-1166.
Cetina A, Matos A, Garma G, Barba H, Vazquez R, Rodriguez AZ, Jay D, Monteon V, Lopez R. 2010. Antimicrobial activity of marine bacteria isolated from Gulf of Mexico. Rev Peru Biol. 17(2):231-236.
Djide. M, Natsir 2008. Dasar-dasar Mikrobiologi. Universitas Hasanuddin. Makasar.
Melander RJ, Melander C. 2017. The challenge of overcoming antibiotic resistence: an adjuvant approach?. Americ Chem Soc. 12(2017):1-5.
Prasetyono. 2012. Buku Pintar ASI Eksklusif. Yogya : Diva Press
Sethi S, Kumar R, Gupta S. 2013. Antibiotic production by microbes isolated from soil. Internat J Pharm Sci Res. 4(8):2967-2973.
Sya'lan A, Mahimid RS, Atibi RM, Nasir Z. 2014. Isolation and identification of antibiotic producing microorganisms. 492MIC. 1:1-17
Tanu, I. 2009. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta: Universitas Indonesia
Waluyo, Lud. 2008. Teknik dan Metode Dasar Dalam Mikrobiologi. Malang. UMM Press.
