Rabu, 09 Juni 2021

IDENTIFIKASI GUGUS FENOL PADA METAMPIRON






LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

“IDENTIFIKASI GUGUS FENOL PADA METAMPIRON”

 


 

DISUSUN OLEH :

NAMA                      : ANNISYA ZAHARA

NPM                          : F0I020048

KELAS                     : 1 B

DOSEN PENGAMPUH: SUCI RAHMAWATI, S.Farm,Apt,M.Farm

 

 

 

 

 

 

LABORATORIUM KIMIA ORGANIK

PRODI D3 FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS BENGKULU

TAHUN AKADEMIK 2021/2022

 

 

I.       TUJUAN

Mempelajari sifat-sifat senyawa organik melalui identifikasi gugus fenol pada metampiron.

 

II.     LANDASAN TEORI

Senyawa fenol merupakan kelas utama antioksidan yang berada dalam tumbuh-tumbuhan. Senyawa ini diklasifikasikan dalan dua bagian yaitu fenol sederhana dan polifenol (Indraswari, 2008).

Senyawa fenol meliputi aneka ragam senyawa yang berasal dari tumbuhan, yang mempunyai ciri sama yaitu cincin aromatik yang mengandung satu atau dua penyulih hidroksil. Umumnya mudah larut dalam air karena sering kali berikatan dengan gula sebagai glikosida dan biasanya terdapat dalan vakuola sel. Contohnya katekol dengan 2 gugus OH, pirogalol dengan 3 gugus OH, dan asam galat, sedangkan senyawa polifenol contohnya fenil propanoid, tanin, flavonoid, dan beberapa terpenoid. Flavonoid merupakan golongan terbesar dari senyawa fenol (Indraswari, 2008).

Senyawa-senyawa fenol yang ada dialam telah banyak diketahui strukturnya, bahkan jumlahnya telah mencapai ribuan. Flavonoid merupakan golongan terbesar, tetapi fenol monosiklik sederhana, fenil propanoid, dan kuinon fenolik juga terdapat dalam jumlah yang relative  banyak. Beberapa golongan bahan polimer penting dalam tumbuhan seperti lignin, melanin dan tannin adalah senyawa polifenol dan kadang-kadang satuan fenolik dijumpai pada protein, alkaloid dan terpenoid. Turunan senyawa fenol (fenolat) banyak terjadi secara alami sebagai flavonoid alkaloid dan senyawa fenolat yang lain. Contoh dari senyawa fenol adalah eugenol yang merupakan minyak pada cengkeh, mangiferine dalam zat warna dari tumbuhan genus mangifera, dan masih banyak pula lainnya. Pada prinsipnya, sifat-sifat kimia dari semua senyawa fenol adalah sama, akan tetapi dari segi biogenetik senyawa-senyawa ini dapat dibedakan atas dua jenis utama, jenis pertama ialah senyawa fenol yang berasal dari asam shikimat atau jalur shikimat. Jenis yang kedua ialah senyawa fenol yang berasal dari jalur asetat malonat. Namun ditemukan pula senyawa fenol yang bersasal dari kombinasi kedua antara jalur biosintesa ini, antara lain ialah senyawa flavonoid. Senyawa fenol sendiri berasal dari Fenil Alkohol (Phenyl Alcohol). (Weber, 2010)

Selain itu, nama fenol juga merujuk pada beberapa zat yang memiliki cincin aromatik yang berikatan dengan gugus hidroksil. Pada tahun 1800 ahli bedah bangsa Inggris Joseph Lister memperkenalkan fenol sebagai antiseptik rumah sakit. Selain itu pada tahun 1834, F.Runge juga menemukan fenol sebagai senyawa aromatik yaitu senyawa memiliki bau atau aroma yang khas. Fenol memiliki rumus kimia C6H5OH. Fenol dapat digunakan sebagai antiseptik seperti yang digunakan Sir Joseph Lister saat mempraktikkan pembedahan antiseptik. Fenol merupakan komponen utama pada anstiseptik dagang, triklorofenol atau dikenal sebagai TCP (trichlorophenol). Fenol juga merupakan bagian komposisi beberapa anestitika oral, misalnya semprotan kloraseptik. Fenol juga berfungsi dalam pembuatan obat-obatan bagian dari produksi aspirin, pembasmi rumput liar, dan lainnya. Selain itu fenol juga berfungsi dalam sintesis senyawa aromatis yang terdapat dalam batu bara. (weber,2004)

Metampiron adalah turunan pirazolon yang berkhasiat sebagai obat antipiretik-analgesik atau biasa disebut sebagai senyawa analgetika non narkotik yang berkerja sebagai analgetika dan antiinflamasi. Merupakan natrium sulfonat dari aminopirin (Hasibuan, 2009).

Metampiron (C13H16N3NaO4S.H2O) memiliki bobot molekul 351,4. Titik lebur metampiron 1720C. Larut dalam 1,5 bagian air, 30 bagian etanol, praktis tidak larut dalam eter, aseton, benzen dan kloroform. Metampiron memiliki panjang gelombang serapan maksimum yang berbeda pada pelarut yang berlainan. Metampiron dan fenilbutason memiliki kemiripan pada struktur molekulnya dan merupakan kombinasi obat analgetik, antipiretik yang masih ditemukan dipasaran. Telah diketahui bahwa campuran metampiron dan fenilbutason, mampu membentuk interaksi molecular berupa senyawa molekular yang melebur in-kongruen (peritektik) jika diberi perlakuan berupa energy termik. Titik peritektiknya terletak pada suhu 149,80C (Soewandhi, 2007).

Obat yang sering digunakan untuk menghilangkan radang dan rasa nyeri adalah obat-obatan analgetika atau Obat Antiinflamasi Nonsteroid (OAINS). Meskipun berkhasiat menghilangkan radang dan nyeri, obat ini tak boleh digunakan sembarangan karena jika digunakan bertahun-tahun dengan dosis tinggi, bisa menimbulkan adiksi, pengeroposan tulang, dan tulang rawan (Harwati, 2009).


III.   ALAT DAN BAHAN

3.1  Alat

-       Tabung reaksi

-       Rak tabung reaksi

-       Pipet tetes

-       Mortir dan stamper

-       Penjepit tabung

-       Gelas ukur

-       Batang pengaduk

-       Sudip

-       Hotplate

3.2  Bahan

-       Formalin

-       Metampiron/metamizole

-       Hcl 0,1N

-       Diazol B

-       Fehling A

-       Feling B

-       NaHCO3

-       Aquadest

-       FeCl3

-       NaOH

-       H2SO4

 

IV.   LANGKAH KERJA

1.     Pertama, gerus matampiron dalam mortar atau lumpang ,lalu ad homogen masukkan kedalam gelas beaker ,setelah itu tambahkan aquades 3ml lalu aduk-aduk ad larut

2.     Kemudian masukkan sampel yang telah dibuat kedalam masing-masing tabung reaksi

A.    Reaksi Marquez

-       Sampel + formalin 1-3 lalu tambahkan H2SO4 pekat 1-3 tetes. Kemudian amati perubahan terjadi

B.    Reaksi fehling

-         Sampel + fehling A 1-3 tetes

-         Sampel + fehling B 1-3 tetes

-         Kemudian panaskan diatas hotplate , lalu amati perubahan yang terjadi

C.    Reaksi leandwher

-       Sampel + FeCl3 1-3 tetes ,lalu tambahkan NaHCO3 1-3 tetes , kemudian amati perubahan yang terjadi

D.    Reaksi diazol

-       Sampel + NaOH 11-3 tetes lalu tambahkan HCl 1-3 tetes dan tambahkan diazol B 1-3 tetes

-       Lalu panaskan diatas hot plate , kemudian amati yang terjadi

 

 

 

 

 

 

V.     HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1  Hasil

No.

Reaksi Identifikasi

Hasil Pengamatan

1.

Reaksi Marquez

Tidak menghasilkan cincin, menghasailkan perubahan warna menjadi kuning pucat, dan menghasilkan warna endapan.

2.

Reaksi Fehling A

Perubahan warna menjadi kuning kebiruan ,setelah dipanskan kuning dan menghasilkan endapan berwarna biru

3.

Reaksi Fehling B

Perubahan warna putih setelah diapanskan menjadi putih keruh dan menghsilkan endapan kuning

4.

Reaksi Landwher

Perubahan warna kuning keruh dan tidak menghasilkan endapan

 

5.

Reaksi Diazol

Perubahan warna putih pekat setelah dipanaskan menjadi putih keruh dan menghasilkan endapan putih

 

5.2  Pembahasan

Fenol atau hydroxylbenzene dengan rumus molekul C6H5OH dan memiliki berat molekul sebesar 94,11g/mol merupakan komponen campuran yang memiliki satu atau lebih gugus hidroksil yang terikat pada cincin aromatik. Pada suhu ruang fenol memiliki ciri fisik berupa kristal putih dan perlahan berubah menjadi berwarna merah muda apabila terkena paparan panas atau cahaya. Fenol juga memiliki bau khas yaitu berbau manis. Dalam kelarutannya, zat ini sedikit sukar larut dalam air pada suhu 0-65 oC dan melarut sempurna pada suhu diatas 65,3 oC. Fenol sangat larut dalam alkohol, benzene, klorofom, eter, dan hampir semua jenis pelarut organikFenol juga biasa disebut asam karbolat, asam fenat, asam fenitilat, fenil hidroksida, fenil hidrokksida, atau oksibenezena.(Othmer, 1962)

Metampiron adalah suatu derivat Pirazolon yang mempunyai efek analgetika-antipiretika yang kuat. Dengan penambahan Tiamina mononitrat, efek analgetiknya diperkuat lagi khusus untuk menghilangkan rasa nyeri yang berhubungan neuritis. Efek samping dari obat ini adalah  pada pemakaian yang teratur dan untuk jangka waktu yang lama, penggunaan obat-obat yang mengandung Metampiron kadang-kadang dapat menimbulkan kasus agranulositosis. Untuk mendeteksi hal tersebut, selama penggunaan obat ini perlu dilakukan uji darah secara teratur. Jika gejala tersebut timbul, penggunaan obat ini harus segera dihentikan. Efek samping lain yang mungkin terjadi adalah methemoglobinemia, erupsi kulit, seperti pada kasus eritematous disekitar mulut, hidung dan alat kelamin. Reaksi hipersensitif reaksi pada kulit.

Pada praktikum kali ini dilakukan uji gugus fenol pada metapiron. Untuk reaksi dilakukan dengan 2 cara uji, yaitu yang pertama uji reaksi marques didapatkan hasil pada uji tersebut bahwa tidak menghasilkan cincin warna sebagai indicator, menghasailkan perubahan warna menjadi kuning pucat, dan menghasilkan warna endapan, sedangkan yang kedua uji reaksi diazol didapatkan uji reaksi tersebut bahwa adanya perubahan warna putih pekat setelah dipanaskan menjadi putih keruh dan menghasilkan endapan putih. Untuk selanjutnya yaitu uji reaksi fehling A dan B. Uji reaksi fehling A terdapat adanya perubahan warna menjadi kuning kebiruan, setelah dipanskan kuning dan menghasilkan endapan berwarna biru. Sedangkan uji reaksi fehling B terdapat adanya perubahan warna putih setelah diapanskan menjadi putih keruh dan menghsilkan endapan kuning. Dan yang terakhir yaitu uji landwehr didapatkan hasil kuning keruh. Dimana larutan sampel ditambah FeCl3 dihasilkan warna. Perubahan warna putih pekat setelah dipanaskan menjadi putih keruh dan menghasilkan endapan putih.

 

 

VI.   KESIMPULAN DAN SARAN

6.1  Kesimpulan

Senyawa fenol meliputi aneka ragam senyawa yang berasal dari tumbuhan, yang mempunyai ciri sama yaitu cincin aromatik yang mengandung satu atau dua penyulih hidroksil. Umumnya mudah larut dalam air karena sering kali berikatan dengan gula sebagai glikosida dan biasanya terdapat dalan vakuola sel. Contohnya katekol dengan 2 gugus OH, pirogalol dengan 3 gugus OH, dan asam galat, sedangkan senyawa polifenol contohnya fenil propanoid, tanin, flavonoid, dan beberapa terpenoid. Flavonoid merupakan golongan terbesar dari senyawa fenol. . Fenol memiliki rumus kimia C6H5OH.

Metampiron adalah turunan pirazolon yang berkhasiat sebagai obat antipiretik-analgesik atau biasa disebut sebagai senyawa analgetika non narkotik yang berkerja sebagai analgetika dan antiinflamasi. Merupakan natrium sulfonat dari aminopirin. Metampiron (C13H16N3NaO4S.H2O) memiliki bobot molekul 351,4. Titik lebur metampiron 1720C. Larut dalam 1,5 bagian air, 30 bagian etanol, praktis tidak larut dalam eter, aseton, benzen dan kloroform.

6.2  Saran

Pada saat melakukan praktikum kita harus mengutamakan keselamatan kerja. Serta kita harus hati-hati dan teliti dalam menggunakan alat-alat di laboratorium. Selain itu, kita juga harus mematuhi aturan yang ada untuk tetap menjaga kekondusifan ruangan praktikum agar proses praktikum dapat berjalan dengan lancar dan nyaman.

  

 

DAFTAR PUSTAKA

Harwati, CH Tri, 2009, Khasiat jahe bagi kesehatan tubuh manusia, Jurnal inovasi pertanianVol. 8. No.1.

Hasibuan, Sri Romaito, 2009, Pengaruh Pemberian Vitamin C terhadap Efek Analgetika Metampiron pada Marmut (Cavia cobaya), Skripsi, Fakultas Farmasi Univesitas Sumatra Utara, Medan.

Indraswari, Arista. 2008. Optimasi Pembuatan Ekstrak Daun Dewandaru (Eugenia Uniflora L.) Menggunakan Metode Maserasi dengan Parameter Kadar Total Senyawa Fenolik dan Flavonoid. Surakarta: Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Soewandhi, Sundani Nurono, dkk. 2007. Pengaruh Milling Terhadap Laju Disolusi Campuran Metampiron-Fenilbutason (7:3). Majalah ilmu kefarmasianVol. 4. No.2.

Weber M., Weber M, Kleine-Boymann M. 2004. Phenol. In: Ullmann’s encyclopedia of industrial chemistry, 7th edn, VCH, Weinheim.

Weber, Manfred, Markus Weber. 2010. L. Pilato (ed.), Phenolic Resins: A Century of Progress. Springer-Verlag, Heidelberg, Berlin, 9  23.

"IDENTIFIKASI GUGUS FENOL PADA PARACETAMOL"


 "IDENTIFIKASI GUGUS FENOL PADA PARACETAMOL"

 DISUSUN OLEH:

NAMA : ANNISYA ZAHARA

                NPM:F0I020048       

                            KELAS:1B.                          


NAMA DOSEN : SUCI RACHMAWATI,M.Farm.,Apt




LABORATORIUM KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PRODI DIPLOMA 3 FARMASI

UNIVERSITAS BENGKULU

TAHUN AKADEMIK 2020/2021



TUJUAN PRAKTIKUM

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan memahami:

Sifat fisik dan penentuan dari gugus fenol

Perbedaan gugus fenol bervalensi tunggal dan bervalensi banyak


LANDASAN TEORI


    Fenol ialah senyawa yang ditandai dengan lekatnya gugus hidroksil langsung pada cincin aromatik. Banyak senyawa berfenol dijumpai di alam. Fenol adalah senyawa induknya. Fenol atau asam karbolat dulu digunakan sebagai antiseptik di rumah sakit. Penggunaannya dihentikan karena fenol mudah terisap melalui kulit, menyebabkan cacat bakar dan amat beracun. Turunan sintetik fenol, yaitu butyl hidroksi toluena (BHT), banyak digunakan sebagai pengawet bahan makanan. BHT sering dipadukan ke dalam bungkus makanan, bukan pada makanannya sendiri, agar makanan tidak tercemar rasa antiseptik. Turunan fenol lain, yaitu timol, digunakan sebagai antiseptik dalam pembuatan obat kumur (Wilbraham,1998).

    Fenol memiliki rumus kimia C6H5OH. Fenol dapat dibuat melalui sulingan bertingkat ter arang batu. Selain itu, peleburan benzene sulfonat dengan alkali, hidrolisa senyawa diazonium dan mereaksikan fenil klorida dengan kalium hidroksida dalam natrium hidroksida dengan kondisi suhu 300-400 °C.Fenol merupakan padatan (kristal) yang tak berwarna. Senyawa ini bersifat higroskopis. Di dalam pelarut organik, fenol dapat larut. Bersifat sebagai asam lemah. Fenol tak dapat dioksidasi menjadi aldehida maupun keton serta tak dapat bereaksi dengan karbonat (Ndra,1984).

    Obat analgesik antipiretik serta obat antiinflamasi nonsteroid (AINS) merupakan salah satu kelompok obat yang banyak diresepkan dan juga digunakan tanpa resep dari dokter. Obat-obat ini merupakan suatu kelompok obat yang heterogen secara kimia. Walaupun demikian, obat-obat ini ternyata memiliki banyak persamaan dalam efek terapi maupun efek samping. Prototip obat ini adalah aspirin, karena itu obat golongan ini sering disebut juga sebagai obat mirip aspirin (aspirin-like drugs) (FK UI, 2012).

    Parasetamol atau nama lainnya N-asetil- 4- aminofenol, memiliki rumus kimia C8H9NO2 dengan bobot molekul 151,16 g/mol. Parasetamol berbentuk hablur atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa pahit, memiliki Kelarutan kelarutan dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95%) P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P, dan dalam 9 bagian propilenglikol P; larut dalam larutan alkali hidroksida, dan suhu lebur 169-172oC (Depkes RI, 1995).Asetaminofen (parasetamol) merupakan metabolit fenasetin dengan efek antipiretik yang sama dan telah digunakan sejak tahun 1893. Efek antipiretik di timbulkan oleh gugus aminobenzen. Asetaminofen di Indonesia lebih dikenal dengan nama parasetamol, dan tersedia sebagai obat bebas. Walau demikian, laporan kerusakan fatal hepar akibat takar lajak akut perlu diperhatikan. Tetapi perlu diperhatikan pemakai maupun dokter bahwa efek anti-inflamasi parasetamol hampir tidak ada (FK UI, 2012).

    Senyawa N-(4-hidroksifenil) asetamida yang juga dikenal dengan parasetamol atau asetaminofen, dapat digunakan sebagai analgesik ataupun antipiretik pada pasien yang memiliki gangguan pada lambungkarena sifatnya yang tidak iritatif pada mukosa dinding lambung. Parasetamol tidak memiliki aktivitas antiinflamasi karena afinitasnya dengan enzim siklooksigenase yang rendah (Clark, Finkel, and Whalen, 2011).

    Parasetamol biasa dikombinasikan dengan beberapa NSAIDs untuk suatu tujuan terapi karena kombinasi keduanya akan memiliki onset dan efektivitas yang lebih baik daripada penggunaan parasetamol saja (Mirzayan, 2006).Senyawa N-(4-hidroksifenil) asetamida memiliki rumus molekul C8H9NO2dengan bobot molekul 151,16 g/mol. Parasetamol murni berupa serbuk kristal berwarna putih, tidak berbau, berasa pahit, memiliki titik lebur 170°C. 1 gram parasetamol larut dalam 70 mL air dingin, 20 mL air panas, 10 mL alkohol, 50 mL kloroform, 40 mL gliserin, dan sedikit larut dalam eter (Remington, 2006).

Parasetamol merupakan suatu senyawa fenolik karena pada strukturnya terdapat gugusan hidroksil (-OH) yang terikat langsung pada suatu cincin benzena. Dalam reaksinya, fenol tidak dapat teresterifikasi dengan asam asetat. Suasana basa akan membuat fenol terionisasi, dimana ion fenoksida yang terbentuk lebih reaktif fan dapat menyerang komponen elektrofilik yang ada. Berbeda dengan suatu ion alkoksida, ion fenoksida dapat menstabilkan diri melalui resonansi.Fenol merupakan senyawa yang dianggap berasal dari benzena dengan suatu gugus –OH yang terikat pada cincin aromatik. Rumus kimianya adalah C6H5OH. Fenol bersifat stabil dan ramah terhadap lingkungan, bersifat asam, mampu bereaksi dengan NaOH (basa), membentuk Na.Fenolat (garam), tidak bereaksi dengan asam (RCOOH), tetapi bereaksi dengan alkil halida (RCOX) untuk membentuk ester. Fenol memiliki kelarutan terbatas dalam air, yakni 8,3 gram/100 mL. Fenol memiliki sifat yang cenderung asam, artinya dapat melepaskan ion H+ dari gugus hidroksilnya. Pengeluaran ion tersebut menjadikan anion fenoksida C6H5O− yang dapat dilarutkan dalam air. Fenol adalah sekelompok senyawa organik yang gugus hidroksilnya (-OH) langsung melekat pada karbon cincin benzena. Aktivator kuat dalam reaksi substitusi aromatik elektrofilik terletak pada gugus –OH-nya karena ikatan karbon sp2 lebih kuat dari pada ikatan oleh karbon sp3 makan ikan C-O dalam fenol tidak mudah diputuskan. Fenol sendiri tahan terhadap oksidasi karena pembentukan suatu gugus karbonil mengakibatkan dikorbankannya penstabilan aromatik. Fenol umumnya diberi nama menurut senyawa induknya (Schmidt, 1998). 

    Kimiawi fenol telah diketahui lama sebelum pengetahuan kimia organik, sehingga banyak fenol mempunyai nama-nama umum. Metilfenol misalnya, dikenal sebagai kresol (berasal dari kreasot, tar dari batu bara atau kayu yang mengandung zat ini). Berlawanan dengan alkohol, fenol-fenol memiliki sifat lebih asam dibandingkan alkohol dan air, karena ion fenoksida dimantapkan oleh resonansi. Muatan negatif pada hidroksida atau alkoksida tetap tinggal pada atom hidrogen sedangkan pada ion fenoksida muatan ini dapat didelokasikan pada posisi-posisi orto dan pada pada cincin benzena melalui resonansi (Suminar, 1992). Fenol atau asam karbolat atau benzenol adalah zat kristal tak berwarna yang memiliki bau khas. Rumus kimianya adalah C6H5OH dan strukturnya memiliki gugus hidroksil (-OH) yang berikatan dengan cincin fenil. Kata fenol juga merujuk pada beberapa zat yang memiliki cincin aromatik yang berikatan dengan gugus hidroksil. Fenol memiliki kelarutan terbatas dalam air, yakni 8,3 gram/100 mL. Fenol memiliki sifat yang cenderung asam, artinya dapat melepaskan ion H+ dari gugus hidroksilnya. Pengeluaran ion tersebut menjadikan anion fenoksida C6H5O− yang dapat dilarutkan dalam air (Wage, 1995).


ALAT DAN BAHAN

Alat:      

Gelas ukur

Penjepit tabung reaksi

Sudip

Lumpang dan alu

Pipet tetes

Tabung reaksi

Rak tabung reaksi

Kertas label

hot plate

beaker glass

Bahan:

Paracetamol

Formalin

Diazol B

HCl 0,1 N

Fehling A

Fehling B

NaHCO3

FeCl3

NaOH

H2SO4

Aquadest


PROSEDUR PERCOBAAN

Siapkan alat dan bahan

Gerus paracetamol 1 – 2 tablet

Tambahkan aquadest untuk melarutkan paracetamol, kemudian aduk hingga larut.

Reaksi umum

Uji reaksi marquiz

Masukkan 3 tetes larutan formalin ke dalam 3 ml sampel paracetamol

Tambahkan H2SO4 pekat sebanyak 3 tetes, kemudian amati perubahan yang terjadi.

Uji reaksi Diazo

Ambil sampel larutan paracetamol sebanyak 3 tetes. Tambahkan NaOH 3 tetes lalu tambahkan HCl sebanyak 3 tetes, dan tambahkan diazol B sebanyak 3 tetes.

Kemudian panaskan di atas hotplate, kemudian amati perubahan warna yang terjadi.

Reaksi Pembeda Fenol bervalensi tunggal dan fenol bervalensi banyak

Uji reaksi Fehling A dan Fehling B

Ambil sampel larutan paracetamol sebanyak 3 ml

Kemudian tambahkan larutan fehling A sebanyak 3 tetes.

Kemudian ambil lagi sampel larutan paracetamol sebanyak 3 ml, kemudian tambahkan fehling B.

Kemudian tutup tabung reaksi menggunakan kapas lalu panaskan di atas hotplate.

Amati perubahan dan catat hasilnya

Reaksi Landwehr

Tambahkan FeCl3 sebanyak 3 tetes ke dalam tabung reaksi yang berisi 3 ml larutan sampel paracetamol.

Lalu tambahkan NaHCO3 sebanyak 3 tetes, dan amati perubahan yang terjadi.


V.HASIL DAN PEMBAHASAN

A.HASIL

Hasil Reaksi umum

1Reaksi Marquiz 

( Sampel + formalin + H2SO4 pekat)

Tidak terdapat cincin warna

2Reaksi Diazo

(Sampel + NaOH + HCl + Diazol B + dengan pemanasan)

Warna berubah menjadi kuning bening


Hasil reaksi pembeda fenol bervalensi tunggal dan fenol bervalensi banyak

1.ReaksiFehling A

( Sampel + fehling A+ pemanasan)

Warna menjadi kuning kehijauan pekat

Reaksi Fehling B

(Sampel + Fehling B)

Warna menjadi kuning bening


2.Reaksi Landwehr

(Sampel + FeCl3 + NaHNO3)

Warna berubah menjadi kuning keruh pucat

 

B.PEMBAHASAN

    Fenol merupakan senyawa yang dianggap berasal dari benzena dengan suatu gugus –OH yang terikat pada cincin aromatik. Rumus kimianya adalah C6H5OH. Fenol bersifat stabil dan ramah terhadap lingkungan, bersifat asam, mampu bereaksi dengan NaOH (basa), membentuk Na.Fenolat (garam), tidak bereaksi dengan asam (RCOOH), tetapi bereaksi dengan alkil halida (RCOX) untuk membentuk ester. Fenol memiliki kelarutan terbatas dalam air, yakni 8,3 gram/100 mL. Fenol memiliki sifat yang cenderung asam, artinya dapat melepaskan ion H+ dari gugus hidroksilnya. Pengeluaran ion tersebut menjadikan anion fenoksida C6H5O− yang dapat dilarutkan dalam air. Fenol adalah sekelompok senyawa organik yang gugus hidroksilnya (-OH) langsung melekat pada karbon cincin benzena.

    Pada praktikum ini dilakukan uji gugus fenol pada paracetamol. Untuk reaksi umum dilakukan dengan dua uji. Yaitu uji marquis dan uji diazo. Dengan uji marquis didapatkan hasil dari percobaan tidak terbentuk cincin warna. Yang mana seharusnya terbentuk cincin warna sebagai indicator adanya gugus fenol paada senyawa tersebut. Hal ini dapat dikarena banyak factor baik internal maupun eksternal.Senyawa fenol mempunyai peranan yang penting bagi kehidupan kita sehari-hari yaitu sebagai antiseptik dan desinfektan yangefektif. Fenol digolongkan menjadi dua yaitu:Fenol bervalensi tunggal, yaitu senyawa fenol yang hanya memiliki satu gugus hidroksil (-OH). Contoh : fenol, naftol.Fenol bervalensi banyak, yaitu senyawa fenol yang memiliki lebih dari satu gugus hidroksil(-OH). Contoh : resorcin, tanin, pirogalolUntuk selanjutnya yaitu uji reaksi pembeda fenol bervalensi tunggal dan fenol bervalensi banyal. Yang mana dilakukan dengan uji reaksi fehling A dan fehling B, dan uji reaksi landwerh. Dari hasil pengamatan di dapatkan bahwa hasil dari uji reaksi fehling A dan fehling B yaitu terjadi perubahan warna. Dengan fehling A berubah menjadi kuning kehijauan pekat dan dengan fehling B menjadi kuning bening. Reaksi diberikan oleh fenol bervalensi banyak karena mempunyai daya mereduksi.

        Untuk uji reaksi landwehr didapatkan hasil berupa kuning keruh pucat. Dimana Larutan sampel + FeCl3 dihasilkan warna-warna. Untuk golongan fenol bervalensi banyak jika ditambahkan NaHCO3 5% (r.p) warna yang terbentuk adalah adanya perubahan warna.


VI.KESIMPULAN DAN SARAN

    A.KESIMPULAN

    Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa sifat karbohidrat berbeda sesuai dengan struktur dan gugus fungsinya.Reaksi umum untuk uji fenol didaptkan hasil pada uji marquis yaitu tidak terdapat cincin warna dan pada reaksi diazo didapatkan hasil berupa perubahan warna menjadi kuning bening.

Untuk reaksi pembeda fenol bervalensi tunggal dan bervalensi banyak dengan uji reaksi fehling A dan fehling B didapatkan perubahan warna menjadi kuning kehijauan pekat dan kuning bening. Sedangkan untuk reaksi landwehr didapatkan hasil pengamatan perubahan warna menjadi kuning keruh pucat.

    B.SARAN

    Pada kegiatan praktikum ini, sebaiknya alat dan bahan yang akan digunakan di persiapkan terlebih dahulu, agar praktikan dapat berjalan dengan baik. Dan untuk para praktikan agar mempersiapkan diri materi-materi yang akan dipraktekkan, agar dalam kegiatan praktikum tidak terhambat.


DAFTAR PUSTAKA

Flach, M. dan F. Rumawas, eds. 1996. Plant Resources of South-East Asia (PROSEA) No.9: Plants Yielding Non-Seed Carbohydrates. Leyden, Blackhuys.

Hart, Harold. 2003. Kimia Organik Suatu Kuliah Sigkat Edisi Kesebelas. Terjemahan dari Organic Chemistry, oleh Suminar Setiati Achmadi. Penerbit Erlangga, Jakarta.

Schmidt, Lanny D. 1998. The Engineering of Chemical Reaction. Oxford University Press Inc., New York.

Stanley, Dennis. 1992. Pengantar Kimia Organik dan Hayati. Terjemahan dari Organic Chemistry and Biological, oleh Suminar Setiati Achmadi. Penerbit ITB, Bandung.

Wage, JR, L.G, 1995. Organic Chemistry Third Edition. Prentice-hall Inc., New Jersey

Komang Ari Gunapria Darmapatni, A. P. (2014). ANALISIS KUALITATIF SENYAWA PARASETAMOL (ACETAMINOPHEN)PADAURINDAN RAMBUT MENGGUNAKANKROMATOGRAFIGAS–SPEKTROMETRI MASSA(GC-MS). jurnal kimia, 8 (2), 257-262.

Rahmat Nugraha, H. A. (2015). Pengembangan Alat Uji Carik Berbasis Polistiren Divinilbenzen (PSDVB) untuk Identifikasi Bahan Kima Obat Parasetamol dalam Jamu Pegal Linu. Prosiding Penelitian SPeSIA Unisba, 9 (2), 415-420.