Selasa, 20 April 2021

Annisya Zahara_perhitungan angka lempeng total bakteri pada smapel makanan

 PERHITUNGAN ANGKA LEMPENG TOTAL BAKTERI PADA SAMPEL MAKANAN"



 

NAMA        : Annisya Zahara

NPM           : F0I020048

KELAS       : 1B

DOSEN PENGAMPUH

SUCI RAHMAWATI, M.Farm, Apt.

 

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PRODI D3 FARMASI

UNIVERSITAS BENGKULU

TAHUN AKADEMIK 2020/2021

1. TUJUAN PRAKTIKUM

1.Mampu melakukan penetapan angka lempeng total

2.Mampu menetapkan cemaran bakteri bakteri yang terdapat pada makanan, minuman, kosmetika, obat, dan obat tradisional

 

2. LANDASAN TEORI

Pertumbuhan kuman merupakan peningkatan umlah sel kuman yangterjadi akibat peningkatan biomassa kuman yang teratur, pertumbuhan kuman memerlukan lingkungan nutrisi yang cocok sehingga dapat mendukung proses perkembangbiakan kuman. Konsentrasi sel kuman dapatdiukur dengan perhitungan jumlah sel hidup‖ dengan cara pengenceranyang diikuti dengan penentuan unitpembentukan koloni pada permukaanmedia agar (Arthur, 1993).

Standar plate Count (Angka Lempeng Total) adalah menentukan jumlah bakteri dalam suatu sampel. Dalam test tersebut diketehui perkembangan banyaknya bakteri dengan mengatur sampel, di mana total bakteri tergantung atas formasi bakteri di dalam media tempat tumbhnya dan masing-masing bakteri yang dihasilkan akan membentuk koloni yang tunggal (Djide M. Natsir., 2005)

Berbagai macam uji mokrobiologis dapat dilakukan terhadap bahan pangan, meliputi uji kuantitatif mikroba untuk menentukan daya tahan suatu makanan, uji kualitatif bakteri patogen untuk menenetukan tingkat keamanan dan uji indikator untuk menentukan tingkat sanitasi makanan tersebut. Pengujian yang dilakukan terhadap tiap bahan pangan tidak sama tergantung berbagai faktor, seperti jenis dan komposisi bahan pangan, cara pengepakan dan penyimpanan serta komsumsinya, kelompok konsumen dan berbagai faktor lainnya (Dirjen POM., 1979).

Hasil dari metode hitungan cawan menggunakan suatu standar yang disebut dengan Standart Plate Counts (SPC). Standar tersebut adalah cawan yang dipilih dan dihitung adalah yang mengandung jumlah koloni antara 30-300, beberapa koloni yang bergabung menjadi satu merupakan satu kumpulan koloni yang besar yang jumlah koloninya diragukan dapat dihitung sebagai satu koloni, dan satu deretan rantai koloni yang terlihat sebagai suatu garis tebal dihitung sebagai satu koloni (Waluyo 2007). Plate count agar(PCA) adalah mikrobiologi medium pertumbuhanumum digunakan untuk menilai atau memonitor “total” atau layak pertumbuhan bakteri dari sampel. PCA adalah bukan media selektif. Komposisi agar-agar pelat menghitung dapat bervariasi, tetapi biasanya mengandung (b/v) yaitu 0,5% pepton, 0,25% ekstrak ragi, 0,1% glukosa, 1,5% agar-agar, dan pH disesuaikan (Atlas 2004).

 

Telah diuraikan sebelumnya bahwa sebagai patokan sebaiknya didapatkan 30-300 koloni per cawan dengan alasan utama adalah kesalahan statistik. Kita tidak perlu mengetahui secara dalam mengenai mengapa harus dalam kisaran itu, atau mengapa tidak 100-500 koloni per cawan, dan alasan-alasan berbau statistik lainnya. Namun sebagai microbiologist yang baik, seharusnya mampu memilih metode yang tepat berdasarkan acuan kisaran itu, karena kisaran 30-300 koloni ini digunakan secara internasional.(Mariani,1991)

 

3. ALAT DAN BAHAN

·           Alat

1.beaker glass

2. bunsen

3. cawan petri

4. vortex mixer

5. pipet tetes

6. gelas ukur

7. tabung reaksi

8. rak tabung reaksi

9. korek api

10. timbangan digital

11. autoclave

12. hot plate

 

Bahan

1.NA (nutrient agar)

2. sampel ( roti tawar )

3. aquadest

 

4. PROSEDUR KERJA

1.sterilkan alat yg akan digunakan terlebih dahulu

2. cairkan NA yg terdapat didalam erlenmeyer

3. nyalakan pembakar spirtus/busen

4. ambil aquadest sebanyak 100ml menggunakan gelas ukur lalu tuangkan kedalam beaker glass

5. masukan roti tawar yg sudah ditimbang dan di potong” kecil kedalam beaker glass

6. homogenkan menggunakan vortex mixer

7. larutkan aquadest sebanyak 9ml sampel roti tawar sebanyak 1ml kedalam tabung reaksi kemudian homogenkan dengan vortex mixer dan beri label 10-1

8. larutkan aquadest sebanyak 9ml dari sampel pengenceran 10-1 sebanyak 1 ml masukan kedalam tabung reaksi kemudian homogenkan dengan vortex mixer dan beri label 10-2

9. teteskan sampel tersebut sebanyak 5 tetes kedalam masing” cawan petri berdasarkan label

10. setelah itu masukan kedalam inkubator selama 24 jam dengan kondisi terbalik

 

5. HASIL DAN PEMBAHASAN

  Hasil

NO

GAMBAR

KETERANGAN

1

 



 

Jumlah koloni 25 x 10

2

 



Jumlah koloni 372 x 10^-1

3

 



Jumlah koloni 225 x 10^-2

 

· Pembahasan

Dalam metodespread plate,volume kultur yang digunakan biasanya tidak lebih dari 0.1 ml. Kultur ini kemudian disebarkan (spread) pada permukaan media agar menggunakanspreaderglasssteril. Media agar ini kemudian diinkubasi hingga terbentuk koloni dan dilakukan penghitungan jumlah koloni yang tumbuh. Penggunaan volume kultur lebih dari 0,1 ml sangat jarang digunakan karena cairan yang berlebih tidak dapat merembes/menembus agar dan dapat menyebabkan koloni yang terbentuk bergabung sehingga sulit untuk dihitung.Pada metodepour platevolume kultur sebanyak 0,1-1,0 ml diambil dan dimasukkan kedalam cawam petri steril.Kemudian ditambahkan media agar cair dan dilakukan pencampuran antara kultur dan media dengan memutar cawan petri secara pelan pada permukaan yang rata.Pada pengujian dengan metodepour plate, kultur/sampel mikroba yang digunakan harus dapat bertahan hidup pada saat media agar dengan suhu sekitar 450C ditambahkan.

 

Didalam penggunaan metodespread platedanpour platesangat penting jika jumlah koloni yang tumbuh pada media agar tidak terlalu banyak, karena pada petri yang ditumbuhi koloni yang banyak, beberapa sel tidak dalam bentuk koloni tunggal sehingga dapat menimbulkan perhitungan yang salah. Jumlah koloni yang sangat sedikit juga tidak diharapkan karena secara statistik keakuratan hasil perhitungan jumlah koloni ini sangat rendah. Dalam penerapannya, secara statistik yang paling baik adalah menghitung jumlah koloni hanya jika pada media agar terdapat koloni antara 30 –300 koloni. Pada metodeStandard Plate Countini pengukuran pertumbuhan mikroba difokuskan pada penghitungan jumlah sel yang hidup saja(melakukan pembelahan untuk menghasilkan sel baru). Dalam metode pengukuran ini diasumsikan bahwa masing-masing sel mikroba hidup akanmenghasilkan satu koloni. Ada 2 bentuk metode pengukuran ini yaitu metodespread platedan metodepour plate.

Pengukuran pertumbuhan mikroba dengan pengukuran berat biomassa dilakukan dengan melewatkan suspensi mikroba pada membran filter dengan ukuran pori tertentu. Selanjutnya biomassa yang tersaring/tertahan pada membrane filter dikeringkan dengan menggunakan oven suhu 1000C atau dengan vakum suhu 800C. Setelah dikeringkan biomassa ini ditimbang untuk diketahui beratnya. Selama pertumbuhan, mikroba akan mensisntesis makromolekul dan mengakumulasikannya didalam sel. Seperti nitrogen yang terdapat dalam asam amino dan basa nitrogen yang ada pada sel maka kandungan nitrogen dapat diukur dengan metode Kjedahal’s untuk mementukan biomassa.Peningkatan jumlah nitrogen mengindikasikan adanya pertumbuhan mikroba.

 

 

 

6. KESIMPULAN DAN SARAN

· Kesimpulan

A. Metode yang digunakan dalam menentukan angka kuman antara lain Penghitungan sel mikroba dengan metode langsungdan Pendugaan jumlah mikroba dengan metode tidak langsungyang terdiri dari beberapa metode –metode dengan pengamatan yang berbeda sehingga dapat diketahui pertumbuhan mikrobadan banyaknya sel dalam suatu populasi atauh media.

B .Menghitung atau menentukanbanyaknya mikroba dalam suatu bahan (makanan, minuman, dan lain-lain) dilakukan untuk mengetahui sampai seberapa jauh bahan itu tercemar oleh mikroba. Dengan mengetahui jumlah mikroba, maka dapat diketahui kualitas mikrobiologi dari bahan tersebut. Bahan yang dapat dikatakan baik jika jumlah mikroba yang terkandung dalam bahan tersebut masih di bawah jumlah standar yang ditentukan oleh suatu lembaga. Kandungan mikroba pada suatu bahan juga sangat menentukan tingkat kerusakannya, serta dapat ditentukan olehtingkat kelayakan untuk dikonsumsi.

C. Parameter yang Digunakan Untuk Menentukan Keamanan Sampel dilakukan dengan beberapa macam pengujian yang berbeda hal ini dilakukan untuk mengetahui faktor mikrobiologis ataupun dalam penggunaan bahan kimia dalam proses pengolahan pangan juga menjadi bagian utama yang mempengaruhi keamanan pangandan Aturan yang Menegakkan hal tersebutberdasarkan Undang-undang No.23 tahun 1992.

D. Sampel yang digunakan pada kelompok D 1 adalah kecap dengan SNI 01-2543-1999Berdasarkan pengamatan yang dilakukan setelah inkubasi selama 24 jam, pertumbuhan bakteri semakin bertambah ketika semakin encer konsentrasi.Hall ini tidak sesuai dengan teori ,karena dimungkinan keadaan PCA masih panas saat dicampur dengan bakteri .

 

· Saran

Adapun saran yang ingin diajukan dalam pelaksanakan praktikum iniadalah diharapkan semua praktikan lebih serius dan disiplin lagi dalammelakukan pengerjaan atau prosedur kegiatan praktikum di laboratoriummikrobiologi harus dikerjakan secara aseptis yang bertujuan untuk mencegahadanya kontaminasi silang atau tercemarnya biakan murni darimikroorganisme luar baik melalui kontak langsung dengan permukaan atautangan sekaligus melindungi diri dari infeksi dan orang-orang yang berada didalam laboratorium

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Aditya, Mushoffa. 2010. Teknik Pewarnaan Bakteri.

Adyatma, 1980. Kebijaksanaan Pemberantasan Penyakit Pada makanan di Indonesia Cermin Dunia Kedokteran, 1-4.

Brotowidjoyo, M.D., 1987. : mikroorganime penyebab penyakit. Media Sarana Press, Jakarta

Dwijoseputro, d. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi.Jakarta:

 Djambatan.Pelczar,M.J.2007. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta:

UI Press.Sutedjo,M.1991. Mikrobiologi Tanah. Jakarta:

RhinekaCipta.Volk & Wheeler,1993,Mikrobiologi Dasar. Penerbit Erlangga:Jakarta

 

 

 

Selasa, 13 April 2021

UJI AKTIVITAS ANTI BAKTERI TERHADAP ANTIBIOTIK

 LAPORAN PRAKTIKUM UJI AKTIVITAS ANTI

BAKTERI TERHADAP ANTIBIOTIK





DISUSUN OLEH:

           NAMA                   : Annisya Zahara

NPM                     : F0I020100

KELAS                 : 1B                   

NAMA DOSEN : SUCI RAHMAWATI, M.Farm, Apt.

 

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI & PARASITOLOGI

PRODI D3 FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS BENGKULU

TAHUN AKADEMIK 2021/2022



A.     Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum kali ini yaitu untuk mengetahui teknik uji sensitivitas

B.     Landasan Teori

Antibakteri adalah senyawa yang digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan bakteri yang bersifat merugikan. Pengendalian pertumbuhan mikroorganisme bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit dan infeksi, membasmi mikroorganisme pada inang yang terinfeksi, dan mencegah pembusukan serta perusakan bahan oleh mikroorganisme (Sulistyo, 1971).

Antibiotika berspektrum luas dapat menimbulkan super infeksi yang dipicu oleh penurunan daya tahan tubuh pasien atau terlalu lama menggunakan antibiotika (Tanu, 2009).

Mekanisme penghambatan terhadap pertumbuhan bakteri oleh senyawa antibakteri dapat berupa perusakan dinding sel dengan cara menghambat pembentukannya atau mengubahnya setelah selesai terbentuk, perubahan permeabilitas membran sitoplasma sehingga menyebabkan keluarnya bahan makanan dari dalam sel, perubahan molekul protein dan asam nukleat, penghambatan kerja enzim, dan penghambatan sintesis asam nukleat dan protein. Di bidang farmasi, bahan antibakteri dikenal dengan nama antibiotik, yaitu suatu substansi kimia yang dihasilkan oleh mikroba dan dapat menghambat pertumbuhan mikroba lain. Senyawa antibakteri dapat bekerja secara bakteriostatik, bakteriosidal, dan bakteriolitik (Pelczar dan Chan, 1988)

Uji sentifitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas antibakteri . Metode uji sensitivitas Bakteri adalah metode cara bagaimana mengetahui dan mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai bahan antibakteri serta mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri pada konsentrasi yang rendah.  Seorang ilmuwan dari Perancis menyatakan bahwa metode difusi agar dari produksi Kirby Bauer, sering digunakan untuk mengetahui sensitifitas bakteri. Prinsip dari metode ini adalah penghambatan terhadap pertumbuhan mikroorganisme, yaitu zona hambatan akan terlihat sebagai daerah jernih di sekitar cakram kertas yang mengandung zat antibakteri. Diameter zona hambatan pertumbuhan bakteri menunjukkan sensitivitas bakteri terhadap zat antibakteri. Selanjutnya dikatakan bahwa semakin lebar diameter zona hambatan yang terbentuk bakteri tersebut semakin sensitif (Waluyo, 2008) .

Sensitifitas adalah suatu keadaan dimana mikroba sangat peka terhadap antibiotik atau sensitifitas adalah apakah suatu antibiotik yang masih baik untuk memberikan daya hambat terhadap mikroba. Uji sensitifitas terhadap suatu antimikroba untuk dapat menunjukkan pada kondisi yang sesuai dengan efek daya hambat nya terhadap mikroba. Suatu penurunan aktivitas antimikroba akan dapat menunjukkan perubahan kecil yang tidak dapat ditunjukkan oleh metode kimia sehingga pengujian secara mikrobiologis dan biologi dilakukan. Biasanya metode yang merupakan standar untuk mengatasi keraguan tentang kemungkinan hilangnya aktivitas antimikroba (Djide, 2008).

Antibiotik  merupakan  senyawa  aktif  yang  dalam  konsentrasi  rendah  dapat membunuh  ataupun  menghambat  pertumbuhan  dan  aktivitas  metabolisme  bakteri tertentu.  Berbeda  dari  bakteriosin  yang  merupakan  metabolit  primer  peptida  hasil sintesis  di  ribosom, antibiotik  termasuk  metabolit  sekunder  yang  dihasilkan  saat  sel berada  pada  fase  stasioner.  Secara  umum,  antibiotik  bekerja  dengan  berbagai  cara seperti  menghambat  sintesis  dinding  sel,  mengganggu  sintesis  protein  tertentu, menghambat  sintesis  membran  sel,  merusak  asam  nukleat,  dan  mengganggu  kerja enzim  (menjadi inhibitor  kompetitif). Adapun  berdasarkan  kelasnya,  antibiotik  dapat dibedakan  menjadi  beta  lactams  (seperti  penisilin  dan  cephalosporin),  macrolides, tetracylines, dan aminoglycosides (Arora et al. 2013).

Hingga saat ini sekitar 4000 jenis antibiotik telah berhasil diisolasi namun hanya  50  yang  dapat  diterima  dan  digunakan  dalam  dunia  kesehatan.  Hal  ini dikarenakan  kebanyakan  antibiotik  yang  ditemukan  gagal  memenuhi  syarat  utama  untuk dikomersilkan  seperti  bersifat  toksin  bagi  manusia  dan  hewan,  kurang  efektif,  dan produksinya  membutuhkan  biaya  yang  mahal.  Berbagai  jenis  antibiotik  tersebut umumnya diisolasi dari mikrob tertentu yang dapat memproduksi bahan aktif tersebut dalam bentuk senyawa metabolit sekunder (Sya’lan et al. 2014).

Antibiotik yang umumnya banyak digunakan dalam dunia farmasi berasal dari kelompok fungi genus Penicillium, Streptomyces, Cephalosporium, dan Micomonopora serta  bakteri  genus  Bacillus  (Sethi  et  al.  2013).

Namun,  meskipun  telah  banyak antibiotik  yang  diperoleh  dan  diaplikasikan,  kasus  resistensi  bakteri  patogen  pun semakin  meningkat  dikarenakan  tingginya  penggunaan  antibiotik  dan  obat-obatan secara non-medis yang tidak mengikuti aturan penggunaannya secara tepat (Cetina et al. 2010).

 Contoh  dari  bakteri  patogen  tersebut  adalah  Enterococcus  faecium, Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumoniae, Acinetobacter baumanni, Pseudomonas aeruginosa, dan spesies Enterobacter (Melander RJ dan Melander C 2017).

Berbagai  usaha  terus  dilakukan  untuk  menghasilkan  senyawa  antibiotik  yang lebih bervariasi,  baik  dalam  aktivitas,  mode  aksi,  ataupun  struktur  kimianya  guna mengimbangi  tingginya  tingkat  resistensi bakteri  patogen (Cetina  et al.  2010).

 

 

C.     Alat dan Bahan

·         Alat :

1)      Erlenmeyer

2)      Bunsen

3)      Cawan Petri

4)      Pipet Tetes

5)      Rak Tabung Reaksi

6)      Pinset

7)      Beaker Glass

8)      Tabung Reaksi

9)      Timbangan

10)  Pembolong Kertas

11)  Autoklaf

12)  Inqubator

13)  Mortir & Stamper

14)  Vorter Mixer

15)  Koran

16)  Hot plate

 

·         Bahan :

1)      Aquadest

2)      Alkohol

3)      Nutrient Agar (NA)

4)      Amoxicilin

 

D.     Prosedur Kerja

1.    Lakukan sterilisasi alat menggunakan autoklaf, bungkus alat menggunakan koran kecuali rak tabung reaksi. Lalu sterilisasikan selama 15 menit pada suhu 121C atau dengan tekanan 1 atm

2.    Setelah suhu sampai di 121C matikan autoklaf, dan tunggu hingga 15 menit, jangan lupa untuk buka katup uapnya

3. Nyalankan hotplate dan panaskan Nutrient Agar (NA)

4. Setelah semua alat di sterilisasi, hidupkan Bunsen dan buka pembungkusnya di tengah Bunsen agar alat tidak terkontaminasi

5.  Lalu masukkan NA kedalam cawan petri

6.  Lalu gerus amoxicillin lalu timbang menjadi 10 gram, 15 gram dan 20 gram

7.  Masukkan amoxicillin ke dalam gelas ukur, dan homogenkan menggunakan vortex mixer

8.    Sterilkan pinset , lalu sterilkan cawan petri menggunakan alcohol dan tandai atau bagi menjadi 4 bagian

9. Lalu celupkan cakram kedalam aquadest, tandai control negative

10. Lalu celupkan cakram kedalam tabung reaksi control negative 10, 15, 20 dan tandai pada cawan petri

11. Setelah itu masukkan sampel ke dalam inqubator selama 1 x 24 jam lalu amati hasilnya

  

 

 

E.  Hasil

 




                   



 

Dalam praktikum yang dilakukan di dapatkan hasil seperti digambar, dimana semuanya terdapat clearzone, tetapi di control negative 15 hanya sedikit terdapat clearzone .


 


F.  Pembahasan

Dari hasil yang praktikum yang telah dilakukan bahwa Antibakteri adalah senyawa yang digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan bakteri yang bersifat merugikan. Pengendalian pertumbuhan mikroorganisme bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit dan infeksi, membasmi mikroorganisme pada inang yang terinfeksi, dan mencegah pembusukan serta perusakan bahan oleh mikroorganisme.

 Uji sentifitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas antibakteri . Metode uji sensitivitas Bakteri adalah metode cara bagaimana mengetahui dan mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai bahan antibakteri serta mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri pada konsentrasi yang rendah. 

Pada praktikum kali ini menggunakan metode difusi. Pada metode difusi prinsipnya adalah terdifusinya senyawa antimikroba ke dalam media padatyang telah diinokulasi dengan bakteri. Metode difusi dapat dilakukan dengan cara cakram atau sumuran. Pada metode difusi cakram, kertas cakram yang mengandung antibiotik diletakkan di atas media yang telah mengandung mikroba, kemudian diinkubasi dan dibaca hasilnya berdasarkan kemampuan penghambatan mikroba di sekitar kertas cakram. Metode difusi sumuran dilakukan dengan membuat sumuran dengan diameter tertentu pada media agar yang sudah ditanami bakteri.

Adapun dari praktikum yang dilakukan di dapatkan hasil seperti digambar, dimana semuanya terdapat clearzone, tetapi di control negative 15 hanya sedikit terdapat clearzone .

 

 

 

 

G.  Kesimpulan Dan Saran

-          Kesimpulan

Dari hasil praktikum yang telah dilakukan di dapat disimpulankan sebagai berikut :

1)     Uji sentifitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas antibakteri.

2)     dalam metode uji sensitifitas bakteri ini dapat mengetahui dan mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai bahan anti bakteri serta mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri pada konsentrasi yang rendah.

3)    dari hasil digambar terlihat semua sampel terdapat clearzone, dan hanya dicontrol negative 15 hanya sedikit terdapat clearzone .

 

-       Saran

Saran saya dalam melakukan praktikum ini sebaiknya selalu berhati-hati didalam laboratorium dan pastikan lakukan sterilisasi alat terlebih dahulu supaya hasil yang didapat sesuai dan tepat. Serta jangan lupa selalu menerapkan protocol kesehatan .

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Pelczar MJ, Chan ECS. 1988 Dasar-dasar mikrobiologi 2. Diterjemahkan oleh Hadioetomo RS, Imas T, Tjitrosomo SS, Angka SL. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia;. hal. 489-522.

Arora S,  Nandi D, Prasad N, Rawat  S, Pandey A,  University GE, Dehradun, Science  ML. 2013. Isolation and characterization of antibiotic producing microbes present in rhizospheric soil. Internat J Sci Engineer Res. 4(9):1157-1166.

Cetina A, Matos A, Garma G, Barba H, Vazquez R, Rodriguez AZ, Jay D, Monteon V, Lopez R. 2010. Antimicrobial activity  of marine  bacteria isolated  from  Gulf  of  Mexico. Rev Peru Biol. 17(2):231-236.

Djide. M, Natsir 2008. Dasar-dasar Mikrobiologi. Universitas Hasanuddin. Makasar.

Melander RJ, Melander C. 2017. The challenge of overcoming antibiotic resistence: an adjuvant approach?. Americ Chem Soc. 12(2017):1-5.

Prasetyono. 2012. Buku Pintar ASI Eksklusif. Yogya : Diva Press

Sethi S, Kumar R, Gupta S. 2013. Antibiotic production by microbes isolated from soil. Internat J Pharm Sci Res. 4(8):2967-2973.

Sya'lan  A,  Mahimid  RS,  Atibi  RM,  Nasir  Z.  2014.  Isolation  and  identification  of antibiotic producing microorganisms. 492MIC. 1:1-17

Tanu, I. 2009. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta: Universitas Indonesia

Waluyo, Lud. 2008. Teknik dan Metode Dasar Dalam Mikrobiologi. Malang. UMM Press.

 


PENGARUH SUHU DAN BAHAN KIMIA TERHADAP PERTUMBUHAN MIKROORGANISME

 

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

"PENGARUH SUHU TERHADAP PERTUMBUHAN MIKROORGANISME DAN PENGARUH BAHAN KIMIA TERHADAP PERTUMBUHAN MIKROORGANISME"

 


 

 

DISUSUN OLEH :

                                      NAMA                         : ANNISYA ZAHARA

                                      NPM                            : F0I020048

                                      TINGKAT                     : 1 B

                                      NAMA DOSEN           : SUCI RAHMAWATI, M. FARM, APT

 

 

 

 

PRODI D3 FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS BENGKULU

TAHUN AKADEMIK 2020/2021

 

 

I.Tujuan

               1. untuk mengetahui bagaimana suhu dan bahan kimia bisa melakukan pertumbuhan

                   Mikroba pada tumbuhan

             2.mengetahui bagaimana teknik kerjanya

 

 

 II.Landasanteori

 

Pertumbuhan mikroba pada umumnya sangat tergantung dan dipengaruhioleh faktor lingkungan, perubahan faktor lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi. Hal ini dikarenakan, mikroba selainmenyediakan nutrient yang sesuai untuk kultivasinya, juga diperlukan faktorlingkungan yang memungkinkan pertumbuhan mikroba secara optimum. Mikrobatidak hanya bervariasi dalam persyaratan nutrisinya, tetapi menunjukkan respon yangmenunjukkan respon yang berbeda-beda. Untuk berhasilnya kultivasi berbagai tipemikroba diperlukan suatu kombinasi nutrient serta faktor lingkungan yang sesuai(Pelczar & Chan, 1986).

Kemampuan mikroorganisme untuk tumbuh dan tetap hidup merupakan halyang penting dalam ekosistem pangan. Suatu pengetahuan dan pengertian tentangfaktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan tersebut sangat penting untukmengendalikan hubungan antara mikroorganisme-makanan-manusia. Beberapafaktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme meliputi suplai zatgizi, waktu, suhu, air, pH dan tersedianya oksigen (Buckle, 1985).

Kehidupan bakteri tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan,akan tetapi juga mempengaruhi keadaan lingkungan. Bakteri dapat mengubah pHdari medium tempat ia hidup, perubahan ini disebut perubahan secara kimia. Adapunfaktor-faktor lingkungan dapat dibagi atas faktor-faktor biotik dan faktor-faktorabiotik. Di mana, faktor-faktor biotik terdiri atas makhluk-makhluk hidup, yaitumencakup adanya asosiasi atau kehidupan bersama antara mikroorganisme, dapatdalam bentuk simbiose, sinergisme, antibiose dan sintropisme. Sedangkan faktor-faktor abiotik terdiri atas faktor fisika (misal: suhu, atmosfer gas, pH, tekananosmotik, kelembaban, sinar gelombang dan pengeringan) serta faktor kimia (misal:adanya senyawa toksik atau senyawa kimia lainnya (Hadioetomo, 1993).

Karena semua proses pertumbuhan bergantung pada reaksi kimiawi dan karena lajureaksi-reaksi ini dipengaruhi oleh temperatur, maka pola pertumbuhan bakteri dapatsangat dipengaruhi oleh temperatur. Temperatur juga mempengaruhi laju pertumbuhan dan jumlah total pertumbuhan organisme. Keragaman temperatur dapat juga mengubah proses-proses metabolik tertentu serta morfologi sel (Pelczar &Chan, 1986).

               Medium harus mempunyai pH yang tepat, yaitu tidak terlalu asam atau basa.Kebanyakan bakteri tidak tumbuh dalam kondisi terlalu basa, dengan pengecualian basil kolera (Vibrio cholerae). Pada dasarnya tak satupun yang dapat tumbuh baik pada pH lebih dari 8. Kebanyakan patogen, tumbuh paling baik pada pH netral (pH7)atau pH yang sedikit basa (pH 7,4). Beberapa bakteri tumbuh pada pH 6;tidak jarangdijumpai organisme yang tumbuh baik pada pH 4 atau 5. Sangat jarang suatuorganisme dapat bertahan dengan baik pada pH 4; bakteri autotrof tertentumerupakan pengecualian. Karena banyak bakteri menghasilkan produk metabolismeyang bersifat asam atau basa (Volk&Wheeler,1993).

               Di dalam alam yang sewajarnya, bakteri jarang menemui zat-zat kimia yangmenyebabkan ia sampai mati karenanya. Hanya manusia di dalam usahanya untukmembebaskan diri dari kegiatan bakteri meramu zat-zat yang dapat meracuni bakteri,akan tetapi tidak meracuni diri sendiri atau meracuni zat makanan yangdiperlukannya. Zat-zat yang hanya menghambat pembiakan bakteri dengan tidakmembunuhnya disebut zat antiseptik atau zat bakteriostatik (Dwidjoseputro,1994).

                Desinfektan adalah bahan kimia yang dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Faktor utama yang menentukan bagaimana desinfektan bekerja adalah kadar dan suhu desinfektan, waktu yang diberikan kepada desinfektan untuk bekerja, jumlah dan tipe mikroorganisme yang ada, dan keadaan bahan yang didesinfeksi. Jadi terlihat sejumlah faktor harus diperhatikan untuk melaksanakan tugas sebaik mungkin dalam perangkat suasana yang ada. Desinfeksi adalah proses penting dalam pengendalian penyakit, karena tujuannya adalah perusakan agen proses penting dalam pengendalian penyakit, karena tujuannya adalah perusakan agen –  agen patogen. Berbagai istilah digunakan sehubungan dengan agen – agen kimia sesuai dengan kerjanya atau organisme khas yang terkena. Mekanisme kerja desinfektan mungkin beraneka dari satu desinfektan ke yang lain. Akibatnya mungkin disebabkan oleh kerusakan pada membran sel atau oleh tindakan pada protein sel atau pada gen yang khas yang berakibat kematian atau mutasi (Volk danWheeler, 1993).

                Mikroba memiliki karakteristik Dan ciri berbeda-beda dalam persyaratan pertumbuhan. Bakteri juga memiliki kebutuhan dasar yang sama meliputi air, karbon, energi, mineral, dan faktor tumbuh. Bakteri merupakan organisme yang bersifat prokariotik dengan ini tidak berselaput. Bakteri dalam aktivitasnya dipengaruhi oleh faktor- faktor lingkungan yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu faktor abiotik meliputi fisika Dan kimia serta faktor biotik yang berhubungan dengan makhluk lain. Faktor fisika mencakup suhu, salinitas, tekanan osmotik, pengeringan, Dan lain-lain. Sedangkan faktor kimia mencakup pH, DO, amonia bahkan antimikro juga berpengaruh terhadap kelangsungan hidup bakteri(indra, 2008).

 



 

III.Alatdanbahan

Alat

1. Bunsen

2. Pinset

3. Cawan petri

4. Kain kasa steril

5. Tabung reaksi

6. Label

 

 

Bahan

 1. Desinfektan

 2. Nutrient board

 3. Nutrient agar






IV.prosedurkerja

1. Siapkan alat Dan bahan

2. Tuangkan NA ke dalam 5 cawan petri, tunggu sampai membeku

3. Panaskan pinset dengan bunsen lalu ambil logam Dan bakar diatas bunsen, kemudian oleskan logam di atas NA yang di cawan petri(sampel logam dibakar).

4. Ambil logam dengan pinset , oleskan logam di atas NA yang Ada di cawan petri(sampel logam tidak di bakar).

5. Ambil kasa steril dengan pinset celupkan ke dalam nutrient board lalu usap ke tangan yang tidak di cuci, kemudian oleskanolesk di atas NA yang di cawan petri(sampel tangan tidak di cuci).

6. Selanjutnya cuci tangan menggunakan sabun.

7. Ambil kasa steril dengan pinset celupkan ke dalam nutrient board lalu usap ke tangan yang di cuci dengan sabun, kemudian oleskan ke dalam NA yang di cawan petri(sampel tangan di cuci dengan sabun).

8. Semprot tangan dengan desinfektan (hand sanitizer)

9. Ambil kasa steril dengan pinset Celupkan ke dalam nutrient board lalu usap ke tangan yang di semprot desinfektan, kemudian oleskan ke dalam NA yang di cawan petri(sampel tangan di semprot dengan desinfektan).

10. Masukkan semua sampel ke dalam inkubator dengan posisi terbalik(agar tidak terkontaminasi) dalam suhu 36°-37°C.ik

11. Inkubasi dalam inkubator selama 1x24 jam.

 



V.Hasildanpembahasan

A.Hasil

HasilDanGambar

Keterangan

Gambar disamping merupakan hasil pengamatan dari sampel tangan tidak di cuci.

Pada gambar disamping merupakan hasil dari sampel tangan di cuci dengan sabun.

Gambar di samping merupakan hasil dari sampel tangan di cuci dengan desinfektan.

Gambar disamping merupakan hasil pengamatan yang di dapatkan dari sampel logam tidak dibakar.

Gambar di samping merupakan hasil dari sampel logam yang dibakar.

 

 

 

 

 


 

 

B.pembahasan

Pertumbuhan  mikroba pada umumnya sangat tergantung dan dipengaruh ioleh faktorl  ingkungan,perubahan faktor lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan  fisiologi.Hal ini  dikarenakan ,mikroba selain menyediakan nutrient yang  sesuai untuk kultivasinya,juga diperlukan faktor lingkungan yang memungkinkan pertumbuhan mikroba secarao ptimum.Mikroba tidak hanya bervariasi dalam persyaratan nutrisinya,tetap imenunjukkan respon yang menunjukkan respon yang berbeda  beda.Untuk  berhasilnya kultivasi berbagai tipe mikroba diperlukan suatu  kombinasi nutrient serta faktor lingkungan yang sesuai.

 

Desinfektan adalah bahan kimia  yang dapat digunakan untuk menghamba tpertumbuhan  mikroorganisme.Faktor utama yang menentukan bagaimana desinfektan bekerja adalah kadar dan suhu desinfektan,waktu yang diberikan kepada desinfektan untuk bekerja,jumlah dan tipe mikroorganisme yang ada, dan keadaan bahan yang didesinfeksi .Jadi terlihat sejumlah faktor harus diperhatikan untuk melaksanakan tugas sebaik mungkin dalam perangkat suasana yang ada.Desinfeksi adalah proses penting dalam pengendalian penyakit,karena tujuannya adalah perusakana  genproses penting dalam pengendalian penyakit,karena tujuannya adalah perusak anagen–agen patogen.Berbagai istilah digunakan sehubungan deng anagen–agen kimia sesuai dengan kerjanya atau organisme khas yang terkena.Mekanisme kerja desinfektan mungkin beraneka dari satu desinfektan ke yang lain.Akibatny amungkin disebabkan oleh kerusakan pada membran sel  atau oleh tindakan pada protein sel atau pada genyang khas yang berakibat kematian atau mutasi.

 

 


 

VI.kesimpulan dan saran

A.Kesimpulan

Pertumbuhan makhluk hidup dipengaruhi oleh nutrisi dan kondisi lingkungan yang mendukung, sehingga makhluk hidup tersebut dapat melakukan pertumbuhan secara maksimum. Makhluk hidup tersebut termasuk bakteri, yang pertumbuhannnya pada umumnya dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Pengaruh lingkungan tersebut akan memberikan gambaran yang menunjukkan peningkatan jumlah sel berbeda dan pada akhirnya akan memberikan gambaran pula terhadap kurva pertumbuhannya (Tarigan, 1988). Salah satu faktor lingkungan yang memengaruhi pertumbuhan bakteri tersebut adalah suhu. Suhu merupakan salah satu faktor utama yang sangat memengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. Dari praktikum yang telah dilakukan, hasil pengamatan menunjukkan bahwa bakteri yang diuji termasuk bakteri yang dapat hidup pada suhu tinggi (40 o C-60 o C).

 B.Saran

 Upayakan terlebuh dahulu kebersihan dan sterilisasi parktikan sebelum melakukan  praktikum agar tidak terjadi kontaminasi.

 



                    

DAFTAR PUSTAKA

Brooks, dkk.1994. Mikrobiologi Kedokteran Edisi 2. Jakarta: Penerbit buku Kedokteran EGC.

 Dwidjoseputro, D.1978.Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Dwidjoseputro. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan. Madigan, T.M., Martinko, J.M., Stahl, D.A., & Clark, D.P. 2012. Brock Biology of Microorganisms. San Francisco: Pearson Education, Inc. Pelczar, M.J. 1986.

Dasar-Dasar Mikrobiologi I. Jakarta: UI Press. Rudiger, A, A Sunna, And G. Antranikian. 1994.

Pengaruh ph dan Suhu Terhadap Aktivitas Protease Penicillium sp. Jurnal Sains Dan Seni POMITS, 2(1): 2337-3520. Zeikus, J.G., C. Vieille., and A. Savchenko. 1998.

Djide, M. N. 2006. Mikrobiologi farmasi dasar, 2006. Universitas hasanuddin. Makasar.