LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
"PEWARNAAN JAMUR"
DISUSUN OLEH :
NAMA : ANNISYA ZAHARA
NPM : F0I020048
TINGKAT : 1 B
NAMA DOSEN : SUCI RAHMAWATI, M.FARM, Apt
PRODI D3 FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BENGKULU
TAHUN AKADEMIK 2021/2022
I. TUJUAN
Bertujuan untuk Mengidentifikasi morfologi pada jamur dan mengetahui pewarnaan jamur baik melalui sampel air ataupun sayur.
II. LANDASAN TEORI
Fungi atau jamur merupakan salah satu jenis mikroba yang memiliki habitat ditempat yang lembab. Fungi memiliki dinding sel yang tersusun atas kitin. Proses reproduksi yang dimiliki oleh fungi dapat terjadi seksual dan aseksual. Fungi memiliki badan berfilamen pada fase pertumbuhannya yang biasanya dikenal sebagai hifa. (Gillen, 2007)
Jamur atau cendawan adalah tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotroph. Jamur ada yang uniseluler dan multiseluler. Tubuhnya terdiri dari benang-benang yang disebut hifa. Reproduksi jamur, ada yang dengan cara vegetative ada juga dengan cara generative. (Buchanan, 2003)
Jamur pada umumnya adalah jasad yang berbentuk benang, multiseluler, tidak berkhlorofil dan belum mempunyai diferensiasi dalam jaringan. Ada pula yang hanya terdiri dari satu sel. Struktur jamur. Walaupun jamur dapat dilihat, namun masing-masing sel adalah mikroskopik. Jamur tersusun atas benang-benang sel yang disebut hifa. Jika jamur tumbuh, hifa saling membelit untuk membentuk massa benang yang disebut miselium yang cukup besar untuk dilihat dengan mata (Lim, 2006).
Secara umum terdapat dua jenis pewarnaan, yaitu pewarnaan sederhana dan pewarnaandiferensial yang sering digunakan untuk mengobservasi mikroorganisme. Pewarnaansederhana menggunakan satu jenis pewarna dan akan menunjukkan bentuk sel dansusunannya. Sebagai contoh, kristal violet, methlene blue, safranin dan carbolfuchsinsering digunakan untuk pewarnaan sederhana. pewarnaan diferensial menggunakan duaatau lebih pewarna dan dapat digunakan untuk membedakan dua jenis organisme berbeda atau dua bagian dalam satu organisme (Sumbali, 2009)
Pewarnaan sederhana, pewarnaan sederhana menggunakan air atau larutan alkohol sebagai pewarna dasarnya pada konsentrasi rendah (1-2%). Pewarna diterapkan pada preparat dalam beberapa lama mulai dari beberapa detik hingga beberapa menit kemudian dibilas. Kadang-kadang substansi kemikal ditambahkan kedalam larutan agar pewarnaan lebih jelas. Seperti tambahan mordant. Sebelum pemeriksaan mikroskopik, preparatdibilas kembali untuk menghilangkan mordan kemudian dikeringkan dengan carameletakkan kertas hisap di atasnya. Pewarnaan sederhana mudah dilakukan dan dapatmemberi warna pada seluruh mikroorganisme, bentuknya, ukuran, maupun susunannyasehingga dapat terlihat dengan jelas. Pewarnaan sederhana juga dapat digunakan untukmembedakan sel bakterial dengan benda mati dan untuk menunjukkan kehadiran sporabakteri lain. (Sumbali, 2009)
Pewarnaan negatif atau tidak langsung teknik pewarnaan ini digunakan untuk pemeriksaan dengan mikroskop cahaya. Bakteriakan bercampur dengan pewarna asam seperti nigrosin atau Congo merah. Campuran iniakan menyebar ke dalam preparat. Pewarna asam memiliki muatan kromofor negatif yangakan menjadikan mikroorganisme negatif bergabung dengan warna dasar. (Sumbali, 2009)
Pewarnaan negatif , teknik pewarnaan ini digunakan untuk mengobservasi kapsul, gelatin pada virulen selbakterial. Pewarnaan kapsul sulit dilakukan, karena unsur-unsur pokoknya larut dalam airdan dapat luntur ketika dibilas. Untuk mengetahui adanya kapsul, bakteria dicampurdengan pewarna asa, seperti nigrosin, dan disebarkan pada kaca benda. Setelah diangin-anginkan, bakteri akan tampak transparan dan warna biru gelap mengelilingi kapsul. Kapsul tidak dapat diwarnai dengan pewarna biologic seperti safranin. (Sumbali, 2009)
Fungi tingkat tinggi maupun tingkat rendah mempunyai cirri khas yaitu berupa benang tunggal atau bercabang – cabang yang disebut hifa. Fungi dibedakan menjadi dua golongan yaitu kapang dan khamir. Kapang merupakan fungi yang berfilamen atau mempunyai miselium, sedangkan khamir merupakan fungi bersel tunggal da tidak berfilamen. Fungi merupakan organisme menyerupai tanaman , tetapi mempunyai beberapa perbedaan yaitu
· Tidak mempunyai kolorofil
· Mempunyai dinding sel dengan komposisi berbeda
· Berkembang biak dengan spora
· Tidak mempunyai batang , cabang, akas dan daun
· Tidak mempunyai system vesicular seperti pada tanaman
· Bersifat multiseluler tidak mempunyai pembagian fungi masing - masing bagian seperti pada tanaman.
Prinsip dasar dari pewarnaan ini adalah adanya ikatan ion antara komponen seluler dari bakteri dengan senyawa aktif dari pewarnaan yang disebut kromogen. Terjadi ikatan ion karena adanya muatan listrik baik pada komponen seluler maupun pada pewarnaan. Berdasarkan adanya muatan ini maka dapat dibedakan pewarna asam dan pewarna basa. Teknik Pewarnaan bukan pekerjaan yang sulit tapi perlu ketelitian dan kecermatan bekerja serta mengikuti aturan dasar yang berlaku (Lay.1994)
III. ALAT DAN BAHAN
3.1 Alat
· Mikroskop
· Object glass
· Cover glass
· Pembakaran Bunsen dan spritus
· Pipet tetes
· Batang ose
· Cawan petri
3.2 Bahan
· sampel jamur air + sayur
· sampel jamur 10-2
· Methyline blue
· Gentian violet
· Alkohol 96 %
IV. PROSEDUR KERJA
4.1 pewarnaan dari sampel jamur sayur + air :
1. Ambil objek glass bersihkan dwngan alkohol 70%
2. lalu fiksasi diatas bunsen, jarum ose yang digunakan untuk pengambilan jamur yang di sterilkan dengan cara flambir atau pemijaran
3. Ambil sampel jamur sayur + air menggunakan jarum ose letakan di objek galss
4. Tetesi sampel dengan metilen blue kemudian tutup dengan objek glass
5. Lalu amati menggukan mikroskop
4.2 pewarnaan dari sampel sayur 10-2:
1. Ambil objek glass bersihkan dwngan alkohol 70%
2. lalu fiksasi diatas bunsen, jarum ose yang digunakan untuk pengambilan jamur yang di sterilkan dengan cara flambir atau pemijaran
3. Ambil sampel jamur sayur 10-2 letakkan diatas objek
4. Tetesi sampel dengan gentian violet kemudian tutup dengan objek glass
5. Lalu amati menggukan mikroskop
4.3 pewarnaan dari sampel sayur 10-2
1. Ambil objek glass bersihkan dwngan alkohol 70%
2. lalu fiksasi diatas bunsen, jarum ose yang digunakan untuk pengambilan jamur yang di sterilkan dengan cara flambir atau pemijaran
3. Ambil sampel jamur sayur 10-2 letakkan diatas objek
4. Tetesi sampel dengan gentian violet kemudian tutup dengan objek glass
5. Lalu amati menggukan mikroskop
4.4 pewarnaan dari sampel sayur 10-2
1. Ambil objek glass bersihkan dwngan alkohol 70%
2. lalu fiksasi diatas bunsen, jarum ose yang digunakan untuk pengambilan jamur yang di sterilkan dengan cara flambir atau pemijaran
3. Ambil sampel jamur 10-2 menggunakan jarum ose letakan di objek galss
4. Tetesi sampel dengan metilen blue kemudian tutup dengan objek glass
5. Lalu amati menggukan mikroskop
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
NO | GAMBAR | KETERANGAN |
1 |
| Pewarnaan Jamur Dengan Sampel air + Sayur Menggunakan gentian violet. |
2 |
| Pewarnaan Jamur Dengan Sampel Sayur 10-2 Menggunakan Methylene Blue |
3 |
| Pewarnaan Jamur Dengan Sampel sayur 10-2 Menggunakan gentian violet |
4 |
| Pewarnaan Jamur Dengan Sampel Air Menggunakan Methylene Blue |
5.2 Pembahasan
Jamur merupakan organisme yang mirip tumbuhan tetapi tidak memiliki klorofil. Dalam klasifikasi system tiga kingdom, jamur ( fungi ) dikelompokkan sendiri terlepas dari kelompok plantae ( tumbuhan ) karena jamur tidak berfotosintesis dan dinding selnya bukan dari selulosa
Jamur hidup tersebar dan terdapat ditanah, air vegetasi, badan hewan, makanan, dibangunan, bahkan pada tubuh manusia. Jamur dapat tumbuh dan berkembang pada kelembaban dan pada suhu yang tinggi. Saat ini di Indonesia diperkirakan terdapat 4.250 sampai 12.000 jenis jamur. Dari jumlah tersebut dalam kehidupan memiliki peran masing – masing dihabitatnya baik yang berkaitan langsung maupun tidak langsung bagi manusia
Ciri – ciri jamur, organisme yang termasuk dalam kelompok jamur, anggotanya mempunyai cirri – cirri umum yaitu uniseluler atau bersel satu atau multi seluler ( benang – benang halus ), tubuhnya tersusun atas hifa ( jalinan benang – benang halus ), eukariotik( mempunyai membrane inti ), tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof, yaitu secara saprofit, parasit dan simbiosis, dinding selnya tersusun atas zat kitin, cadangan makanan tersimpan dalam bentuk glikogen dan protein, pencernannya berlangsung secara ekstraseluler, dimana makanan sebelum diserap disederhanakan terlebih dahulu oleh enzim ekstraseluler yang dikeluarkan dari hifa jamur, memiliki keturunan yang bersifat haploid lebih singkat, reproduksi jamur uniseluler dilakukan secara aseksual dengan membentuk spora. Jamur multiseluler secara aseksual dengan cara memutuskan benang hifa ( fragmentasi ), zoospore, endospora, dan konidia. Sedangkan secara seksual melalui peleburan inti jantan dan inti betina sehingga dihasilkan spora askus atau basidium
Fungi tingkat tinggi maupun tingkat rendah mempunyai cirri khas yaitu berupa benang tunggal atau bercabang – cabang yang disebut hifa. Fungi dibedakan menjadi dua golongan yaitu kapang dan khamir. Kapang merupakan fungi yang berfilamen atau mempunyai miselium, sedangkan khamir merupakan fungi bersel tunggal da tidak berfilamen. Fungi merupakan organisme menyerupai tanaman , tetapi mempunyai beberapa perbedaan yaitu :
1. Tidak mempunyai kolorofil
2. Mempunyai dinding sel dengan komposisi berbeda
3. Berkembang biak dengan spora
4. Tidak mempunyai batang , cabang, akas dan daun
5. Tidak mempunyai system vesicular seperti pada tanaman
6. Bersifat multiseluler tidak mempunyai pembagian fungi masing - masing bagian seperti pada tanaman.
6.PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Pewarnaan bakteri dipengaruhi faktor-faktor antara lain fiksasi, pelunturan warna, substrat, intensifikasi pewarnaan dan penggunaan zat warna penutup. Perbedaan pada garam negatif dan gram positif terletak pada warnanya pada gram positif berwarna ungu kareana dapat mempertahankan zat pewarna kristal violet serta perbadaan terjadi pada dinding selnya. Macam-macam pewarnaan anatara lain : pewarnaan sederhana,pewarnaan differensial, pewarnaan spora dan perwarnaan kapsul.
Larutan zat warna yang digunakan pada percobaan perwarnaan antara lain : alkohol, carbol fuchsin, crystal violet, nigrosin, malachite green, lugol’s iodida, dan safranin.
6.2 Saran
Saran yang penulis berikan adalah harapannya kepada setiap praktikan untuk lebih berhati-hati dalam pemhambilan sampel jamur selain itu pada pembuatan video edukasi dan informasi untuk lebih diperbaiki dalam sediaam sampel karena penulis kurang mendapatkan informasi mengenai apa yang disampaikan tentang bakteri apa yang telah dilakukan pewarnaan.
DAFTAR PUSTAKA
Gillen, 2007.Dasar – Dasar Mikrobiologi.Jakarta : Djambatan.
Buchanan, 2003.http://H:/MAKALAH IAD.Com.Fungi ( Jamur ). Diakses tanggal 3 April Pukul 04:26 WIB
Lim, 2006..http://H:/MAKALAH IAD.Com.Aspergillus. Diakses tanggal 3 April. Pukul 04:27 WIB
Hadiutomo. 1990. Mikrobiologi Dasar Jilid I. Jakarta: Erlangga
Lay, Bibiana.W.1994.Analisis Mikroba di Laboratorium.Jakarta : Rajawali
Simarmata, Diana. 2013. Laporan Pewarnaan Gram dan Pewarnaan.
Sutedjo,M,M. , Kartasapoetra, A, G. ,Sastroatmodjo, S.Mikrobiologi Tanah,1996. PT. Rhineka Cipta,Jakarta
