Selasa, 23 Maret 2021

LAPORAN PEMBUATAN MEDIA PEWARNAAN BAKTERI

 


LAPORAN PEMBUATAN MEDIA PERWARNAAN BAKTERI

 

 

 





 

 

DISUSUN OLEH :

              NAMA           :  ANNISYA ZAHARA

              NPM              : F0I020048

              KELAS          : 1B

NAMA DOSEN : SUCI RAHMAWATI, S.Farm, Apt, M.Farm

 

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI

PROGRAM STUDI D3 FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS BENGKULU

TAHUN AKADEMIK 2021/2022




BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1   Tujuan Praktikum

 Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :

     1.      Mempelajari cara membuat olesan bakteri yang dibutuhkan dalam pewarnaan bakteri.

     2.      Mempelajari prosedur pewarnaan sederhana dan gram (differensial) serta mengetahui reaksi kimia yang terjadi dalam proses pewarnaan bakteri




BAB II

Landasan teori

 

2.1 Pengertian pewarnaan bakteri

Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan sifat-sifat yang khas begitu pula dengan bakteri. Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri yang ada di suspensikan. Salah satu cara unutk mengamati bentuk sel bakteri sehingga mudah di identifikasi adalah dengan cara metode pengenceran atau pewarnaan. Hal tersebut berfungsi untuk mengetahuisifat fisiologisnya  yaitu mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian pengecetan atau pewarnaan.

Melihat dan mengamati bakteri dalam keadaan hidup sangat sulit, karena selain bakteri itu tidak berwarna juga transparan dan sangat kecil. Unutk mengatasi hal tersebut maka dikembangkan suatu teknik pewarnaan sel bakteri sehingga sel dapat terlihat jelas dan mudah diamati. Oleh karena itu teknik pewarnaan sel bakteri ini merupakan salah satu cara yang paling utama dalam penelitian-penelitian mikrobiologi (Dwidjoseputro, 1998).

Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan praktikum kali ini unutk mengetahui teknik pewarnaan mikroorganisme baik itu dengan cara pewarnaan sederhana, pengenceran negative, maupun pengenceran gram serta mengetahui morfologi mikroorganisme (Sutedjo, 1991).

Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang mikroorganisme yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang untuk meneliti apa saja yang terkandung di dalam mikroorganisme. Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan sifat-sifat yang khas, begitu pula dengan bakteri. Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan. Salah satu cara untuk mengamati bentuk sel bakteri sehingga mudah untuk diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau pewarnaan. Hal tersebut juga berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologisnya yaitu mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian pewarnaan.

Pewarnaan gram merupakan salah satu prosedur yang paling banyak digunakan untuk mencirikan banyak bakteri. Dari pewarnaan gram dapat diketahui morfologi sel antara lain sifat gram, bentuk sel, dan penataan sel. Pewarnaan gram atau metode gram adalah suatu metode empiris untuk membedakan spesies bakteri menjadi dua kelompok besar, Gram positif dan gram negatif, berdasarka sifat kimia dan fisika dinding sel mereka, metode ini diberi nama berdasarkan penemunya, ilmuwan denmark hans Christian gram 1884. Pewarnaan Gram dibagi menjadi dua yaitu pewarnaan majemuk karena menggunakan lebih dari satu macam zat warna. Dan pewarnaan diferensial karena pewarnaan ini mampu mengdeferensiasi atau membedakan bakteri, sehingga bakteri dapat digolongkan menjadi dua yaitu Gram negatif dan Gram positif.

Teknik pewarnaan gram haruslah sesuai prosedur karena dapat mengakibatkan kesalahan identifikasi data apakah gram positif atau gram negatif sehingga diperlukan adanya praktikum ini dilakukan agar mengetahui jalannya mekanisme pewarnaan gram.

Bakteri memiliki beberapa bentuk yaitu basil (tongkat), coccus, spirilum. Bakteri yang berbentuk tongkat maupun kokus dibagi menjadi beberapa macam. Pada bentuk basil pembagiannya yaitu basil tunggal, diplobasil, dan tripobasil.Sedangkan pada coccus dibagi menjadi monococcus, diplococcus, sampai stophylococcus. Khusus pada spirilum hanya dibagi dua yaitu setengah melengkung dan melengkung (Dwidjoseputro,1998).

Melihat dan mengamati bakteri dalam kedaan hidup sangat sulit, karena selain bakteri itu tidak berwarna juga transparan dan sangat kecil. Untuk mengatasi hal tersebut maka dikembangkan suatu teknik pewarnaan sel bakteri ini merupakan salah satu cara yang paling utama dalam penelitian-penelitian mikrobiologi (Dwidjoseputro,1998)

Teknik Pewarnaan bukan pekerjaan yang sulit tapi perlu ketelitian dan kecermatan bekerja serta mengikuti aturan dasar yang berlaku (Lay,1994)

Menurut Pelzar et al (2005), macam-macam pewarnaan antara lain pewarnaan sederhana yaitu dengan menggunakan larutan tunggal suatu pewarna pada lapisan tipis yang sudah di fiksasi. Pewarnaan differentsial yaitu prosedur pewarnaan yang menampilkan perbedaan diantara sel-sel mikroba atau bagian-bagian sel mikroba dari pewarnaan gram adalah teknik pewarnaan differensial digunakan untuk bakteri.

Menurut Hadioetomo (1991), dalam pewarnaan gram diperlukan empat reagen yaitu :

·         Zat warna utama (violet kristal)

·         Mordan (larutan Iodin) yaitu senyawa yang digunakan untuk mengintensifkan warna utama.

·         Pencuci / peluntur zat warna (alcohol / aseton) yaitu solven organic yang digunakan uantuk melunturkan zat warna utama.

·         Zat warna kedua / cat penutup (safranin) digunakan untuk mewarnai kembali sel-sel yang telah kehilangan cat utama setelah perlakuan denga alcohol.

Adakala suatu perlu diwarnai dua kali setelah zat warna yang pertama (ungu) terserap, maka sediaan dicuci dengan alkohol, kemudian ditumpangi dengan zat warna yang berlainan, yaitu dngan zat warna merah. Jika sediaan itu kemudian kita cuci dengan air lau dengan alkohol maka dua kemungkinan dapat terjadi. Pertama, zat tambahan terhapus, sehingga yang tampak ialah zat warna asli (ungu). Dalam hal ini sediaan (bakteri) kita sebut gram positif. Kedua zat warna tambahan (merah) bertahan hingga zat warna asli tidak tampak. Dalam hal ini sediaan (bakteri) jika kita katakana gram negatif (Dwidjoseputro, 1998)

Bakteri gram negative adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat warna metil ungu pada metode pewarnaan Gram. Bakteri gram positif akan mempertahankan warna ungu gelap setelah dicuci dengan alcohol, sementara bakteri gram negative tidak.

Bakteri gram positif adalah bakteri yang mempertahankan zat warna metil ungu sewaktu proses pewarnaan Gram. Bakteri jenis ini akan berwarna biru atau ungu di bawah mikroskop, sedangkan bakteri gram negative akan berwarna merah muda. Perbedaan klasifikasi antara kedua jenis bakteri ini terutama didasarkan pada perbedaan struktur dinding sel bakteri (Aditya,2010)

Bakteri gram negatif memiliki 3 lapisan dinding sel. Lapisan terluar yaitu lipoposakarida (lipid) kemungkinan tercuci oleh alkohol, sehingga pada saat diwarnai dengan safranin akan berwarna merah. Bakteri gram positif memiliki selapis dinding sel berupa peptidoglikan yang tebal. Setelah pewarnaan dengan kristal violet, pori-pori dinding sel menyempit akibat dekolorisasi oleh alkohol sehingga dinding sel tetap menahan warna biru (Fitria, 2009).




BAB III

Alat Dan Bahan  


  *. Alat Praktikum

 jarum ose

 bunsen        

  botol semprot

        tisu

 Kaca preparat

   cover glass

 Dan mikroskop majemuk

  -  *  bahan  Praktikum

·         biakan bakteri

·         larutan krista violet

·         larutan safranin

·         alkohol 95ยบ

·         dan aquades






BAB IV

Prosedur kerja

 

 

4.1  Adapun cara kerja dari praktikum iniadalah :

1.1Pewarnaan Sederhana

Biakan bakteri yang akan diamati disiapkan

Biakan bakteri diambil menggunakan jarum ose, kemudian disebarkan di atas kaca preparat yang telah diberi satu tetes air.

Bakteri disebarratakan lalu dikering anginkan.

Bakteri difiksasi dengan cara, kaca preparat dilewatkan beberapa kali di atas bunsen

Krista violet diteteskan di atas olesan bakteri dan didiamkan selama 1 menit.

Krista violet dibilas dengan menggunakan aquades, kemudian dikeringkan dengan cara diusap menggunakan tisu secara perlahan.

Kaca preparat ditutup menggunakan coverglass.

Preparat diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 100x.

 

1.2 Pewarnaan Gram

 

Biakan bakteri yang akan diamati disiapkan Biakan bakteri diambil dengan menggunakan jarum ose, dan disebarratakan di atas kaca preparat yang telah ditetesi air.

Bakteri difiksasi dengan cara, kaca preparat dilewatkan beberapa kali di atas bunsen

Kristal violet (pewarna primer) diteteskan di atas olesan bakteri dan didiamkan selama satu menit.

Kristal violet dibilas dengan menggunakan aquades

Diteteskan iodine, kemudian didiamkan selama 1-2 menit lalu kembali dibilas dengan aquades.

Alkohol 95% diteteskan kemudian didiamkan selama 30 detik lalu dibilas dengan aquades

Diteteskan safranin (pewarna tandingan), didiamkan selama 1 menit lalu dibilas dengan aquades, lalu dikeringkan dengan diusap perlahan menggunakan tisu.

Kaca preparat ditutup menggunakan coverglass.

Preparat diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 100x.





BAB V

Hasil dan pembahasan

 

 

3.1           5.1   Data Pengamatan

NO

GAMBAR

KETERANGAN

1







Pada pewarnaan sederhana

2

 



Pada pewarnaan gram

3



 


Pada pewarnaan sederhana

4







Pada pewarnaan gram

lll

3.2            5.1  Pembahasan

         A.         Bakteri

Bakteri berasal dari bahasa Latin bacterium; jamak: bacteria adalah kelompok organisme yang tidak memiliki membran inti sel. Organisme ini termasuk ke dalam domain prokariota dan berukuran sangat kecil (mikroskopik). Hal ini menyebabkan organisme ini sangat sulit untuk dideteksi, terutama sebelum ditemukannya mikroskop. Barulah setelah abad ke-19 (setelah ditemukannya mikroskop), ilmu tentang mikroorganisme terutama bakteri (bakteriologi) mulai berkembang.

Berdasarkan cara memperoleh makanannya, bakteri dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu bakteri heterotrof dan bakteri autotrof.

1.1 Bakteri Heterotrof 

Bakteri ini hidup dengan memperoleh makanan berupa zat organik dari lingkungannya karena tidak dapat menyusun sendiri zat organik yang dibutuhkannya. Zat organik diperoleh dari sisa-sisa organisme lain. Bakteri yang mendapatkan zat organik dari sampah, kotoran, bangkai dan juga sisa makanan, kita sebut sebagai bakteri saprofit. Bakteri ini menguraikan zat organik dalam makanan menjadi zat anorganik, yaitu CO2, H2O, energi dan mineral.

2.1  Bakteri Autotrof 

Bakteri Autotrof adalah bakteri yang dapat menyusun zat makanan sendiri dari zat anorganik yang ada. Dari sumber energi yang digunakannya, bakteri autotrof (auto = sendiri, trophein = makanan) dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
a). Bakteri fotoautrotof
Bakteri fotoautrotof yaitu bakteri yang memanfaatkan cahaya sebagai energi untuk mengubah zat anorganik menjadi zat organik melalui proses fotosintesis. Contoh bakteri ini adalah: bakteri hijau, bakteri ungu.
b). Bakteri kemoautrotof
Bakteri kemoautrotof adalah bakteri yang menggunakan energi kimia yang diperolehnya pada saat terjadi perombakan zat kimia dari molekul yang kompleks menjadi molekul yang sederhana dengan melepaskan hidrogen. Contoh bakteri ini adalah: Nitrosomonas. Nitrosomonas dapat memecah NH3 menjadi NH2, air dan energi (Sulaiman, 2014).

Di samping terdapat bakteri yang dikelompokkan berdasarkan cara mendapatkan makanan, ada juga penggolongan bakteri berdasarkan sumber oksigen yang diperlukan dalam proses respirasi. Bakteri itu dikelompokan sebagai berikut:
1. Bakteri aerob
yaitu bakteri yang menggunakan oksigen bebas dalam proses respirasinya. Misal: Nitrosococcus, Nitrosomonas dan Nitrobacter.
2. Bakteri anaerob
yaitu bakteri yang tidak menggunakan oksigen bebas dalam proses respirasinya. Misal: Streptococcus lactis.

Pada umumnya bakteri dibagi menjadi tiga golongan besar (berdasarkan bentuknya) yaitu:

1. Kokus (Coccus) adalah bakteri yang berbentuk bulat seperti bola dan mempunyai beberapa variasi sebagai berikut:

- Mikrococcus, jika kecil dan tunggal
- Diplococcus, jka berganda dua-dua
- Tetracoccus, jika bergandengan empat dan membentuk bujur sangkar
- Sarcina, jika bergerombol membentuk kubus
- Staphylococcus, jika bergerombol
- Streptococcus, jika bergandengan membentuk rantai

2. Basil (Bacillus) adalah kelompok bakteri yang berbentuk batang atau silinder, dan mempunyai variasi sebagai berikut:

- Diplobacillus, jika bergandengan dua-dua
- Streptobacillus, jika bergandengan membentuk rantai

3. Spiral (Spirilum) adalah bakteri yang berbentuk lengkung dan mempunyai variasi sebagai berikut:

- Vibrio, (bentuk koma), jika lengkung kurang dari setengah lingkaran (bentuk koma)
- Spiral, jika lengkung lebih dari setengah lingkaran
- Spirochete, jika lengkung membentuk struktur yang fleksibel (Sulaiman, 2014).

Bakteri memiliki beberapa bentuk yaitu basil (tongkat), coccus, spirilum. Bakteri yang berbentuk tongkat maupun kokus dibagi menjadi beberapa macam. Pada bentuk basil pembagiannya yaitu basil tunggal, diplobasil, dan tripobasil.Sedangkan pada coccus dibagi menjadi monococcus, diplococcus, sampai stophylococcus. Khusus pada spirilum hanya dibagi dua yaitu setengah melengkung dan melengkung. Melihat dan mengamati bakteri dalam kedaan hidup sangat sulit, karena selain bakteri itu tidak berwarna juga transparan dan sangat kecil. Untuk mengatasi hal tersebut maka dikembangkan suatu teknik pewarnaan sel bakteri ini merupakan salah satu cara yang paling utama dalam penelitian-penelitian mikrobiologi (Dwidjoseputro.1998).

B.      3.1    Pewarnaan sederhana

Tujuan dari pewarnaan sederhana adalah mengidentifikasi morfologi sel bakteri dengan menggunakan zat warna tunggal. Prinsipnya yaitu  pewarnaan ini hanya menggunakan satu macam zat warna saja. Sebelum zat warna difiksasi terlebih dahulu pewarnaan ini dipakai untuk melihat bentuk-bentuk bakteri. Zat warna yang di gunakan adalah Methylen blue, Crystal violet, basic fuchin atau safranin. Fungsi zat warna: Crystal violet merupakan pewarna primer (utama) yang akan memberi warna mikrioorganisme target. Crystal violet bersifat basa sehingga mampu berikatan dengan sel mikroorganisme yang bersifat asam (Sutedjo, 1991).

C.        4.1    Pewarnaan Negatif

Tujuan dari pewarnaan negatif adalah untuk mengetahui bentuk mikroba dengan pewarnaan-pewarnaan tidak langsung. Prinsip pewarnaan negatif adalah cara pengamatan mikrobiologi yang dapat di lakukan untuk membedakan spesies kecil dan cairan optiknya. Pewarnaan ini merupakan pewarnaan yang di gunakan untuk melihat secara tidak langsung, karena yang diwarnai adalah latar belakangnya, sedangkan bakterinya sendiri tidak mengalami pewarnaan. Pada pewarnaan ini tidak di lakukan fiksasi karena itu dapat digunakan untuk melihat bentuk-bentuk sel yang sesungguhnya dan untuk menentukan ukuran bakteri, karena bakteri praktis tidak mengalami perubahan. Berbeda dengan pewarnaan lain, pewarnaan negatif memungkinkan bakteri terlihat transparan dan tampak jelasFungsi zat warna: Safranin merupakan pewarnaan tandingan atau pewarna skunder, zat ini berfungsi untuk mewarnai sel-sel yang telah kehilangan warna utama dengan kata lain memberikan warna pada bakteri non target (Pelczar, 2007).

D.         5.1  Pewarnaan Gram

Tujuan dari pewarnaan gram adalah untuk melakukan pengamatan morfologi bakteri dengan pewarnaan diferensial. Prinsip pewarnaan gram termasuk pewarnaan diferensial (untuk membedakan) karna dapat membedakan bakteri-bakteri yang bersifat gram negatif dan positif. Pewarnaan ini ditemukan pertama kali pada tahun 1884 oleh Criestian Gram. Bakteri garam positif  ialah bakteri yang mengikat warna utama (crystal violet) dengan kuat sehingga tidak dapat di lunturkan oleh peluntur dan tidak diwarnai lagi oleh zat warna lawan (safranin) pada mikroskop sel-sel bakteri tampak berwarna ungu. Bakteri gram negatif  ialah bakteri yang mempuyai daya mengikat zat warna utama tidak kuat sehingga dapat dilunturkan oleh  peluntur dan dapat diwarnai oleh zat warna lawan (safranin) pada pengamatan mikroskop sel-sel bakteri tampak berwarna merah. Fungsi zat warna:

Crystal violet yang berfungsi membentuk ikatan mg-Ribonucleid acid pada membran/dinding sel bakteri sehingga membentuk kompleks mg-Ribonucleid acid- crystal violet. Kompleks ini merupakan senyawa yang tidak luntur dengan alkohol.

Lugol’s ladin yang berfungsi sebagai penguat ikatan pada kompleks mg-Ribonuclead acid. Alkohol 95% berfungsi mencuci lemak pada dinding sel bakteri.

Safranin berfungsi sebagai zar warna tandingan (lawan) luruh nya kompleks mg-Ribonucleid acid- crystal violet dari dinding sel bakteri gram negatif (Pelczar, 2007)

          E.            Minyak Imersi

Imersi minyak merupakan teknik yang digunakan pada saat kita akan mengamati preparat mikroskopik dengan perbesaran yang besar (10x100 misalnya). Bahan yang digunakan saat melakukan teknik tersebut adalah minyak imersi. Teknik tersebut dilakukan dengan cara mengoleskan minyak di lensa objektif dan preparat yang akan kita amati. Minyak imersi memiliki indeks refraksi yang tinggi dibandingkan dengan air atau udara sehingga objek yang kita amati dapat terlihat lebih jelas dibandingkan dengan tanpa minyak imersi (Alata, 2012).

          F.             Hasil Pengamatan

Pada percobaan kali ini terdapat dua jenis pewarnaan, yaitu : pewarnaan gram dan pewarnaan sederhana. Pada percobaan sederhana Biakan bakteri yang akan diamati disiapkan kemudian biakan bakteri diambil menggunakan jarum ose, dan disebarkan di atas kaca preparat yang telah diberi satu tetes air.kemudian, bakteri disebarratakan lalu dikering anginkan.Bakteri difiksasi dengan cara, kaca preparat dilewatkan beberapa kali di atas bunsen Krista violet diteteskan di atas olesan bakteri dan didiamkan selama 1 menit. Krista violet dibilas dengan menggunakan aquades, kemudian dikeringkan dengan cara diusap menggunakan tisu secara perlahan. Kaca preparat ditutup menggunakan coverglass. Kemudian Preparat diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 100x dengan minyak imersi. Pada pewarnaan sederhana ini ditemukan bakteri dengan bentuk bulat dan berwarna ungu.

Sedangkan pada pewarnaan gram dilakukan dengan cara : Biakan bakteri yang akan diamati disiapkan, diambil dengan menggunakan jarum ose, dan disebarratakan di atas kaca preparat yang telah ditetesi air. Bakteri difiksasi dengan cara, kaca preparat dilewatkan beberapa kali di atas bunsen lalu

Kristal violet (pewarna primer) diteteskan di atas olesan bakteri dan didiamkan selama satu menit. Kemudian kristal violet dibilas dengan menggunakan aquades

Diteteskan iodine, kemudian didiamkan selama 1-2 menit lalu kembali dibilas dengan aquades. Alkohol 93% diteteskan kemudian didiamkan selama 30 detik lalu dibilas dengan aquades. Diteteskan safranin (pewarna tandingan), didiamkan selama 1 menit lalu dibilas dengan aquades, lalu dikeringkan dengan diusap perlahan menggunakan tisu. Kaca preparat ditutup menggunakan coverglass. kemudian preparat diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 100x.




IV.             KESIMPULAN

6.1 Adapun kesimpulan yang dapat diambil  dari praktikum ini adalah :

  1. Pewarnaan sederhana hanya dapat digunakan dalam mengamati morfologi bakteri.
  2. Bakteri dapat dibedakan melalui teknik pewarnaan gram. teknik pewarnaantersebut dapat menghasilkan warna merah dan ungu.
  3. Bakteri gram negatif ditandai dengan pewarnaan merah, sedangkan yang positif berwarna ungu.
  4. Bakteri yang ditemukan pada pewarnaan sederhana berbentuk bulat.
  5. Minyak imersi dapat membantu dalam pengamatan dengan perbesaran 100x.

 

6.2 saran 

Pada praktikum ini disarankan kepada praktikan untuk lebih menjaga kebesihan dilaboratorium saat akan melaksanakan praktikum supaya pengujian yang dilakukan bisa berhasil untuk mengurangi kegagalan.




DAFTAR PUSTAKA

 

          Alata.2012.Minyak Imersihttps://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20121106153845AAsYPMs. Diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukul 05.15 WIB.

Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan

Pelczar, M.J.2007. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : UI Press.

           Sulaiman.2014. Materi Lengkap Tentang Bakteri.

          http://sulaiman-analisis.blogspot.com/2014/04/bakteri-materi-lengkap-tentang-bakteri.html?m=1. Diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukul 05.15 WIB.

Sutedjo, M.1991. Mikrobiologi Tanah. Jakarta : Rhineka Cipta.Komentar

Selasa, 16 Maret 2021

laporan_IsolasiBakteriDariSampelSayurdanAir

                                                          LAPORAN PRAKTIKUM 

"ISOLASI BAKTERI DARI SAMPEL SAYUR DAN AIR"




DISUSUN OLEH 

                     NAMA                 : Annisya Zahara
             NPM                   : F0I020048
 KELAS               : 1B
                                             NAMA DOSEN  :Suci Rachmawati,M,Fram,.Apt


LABORATORIUM MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PRODI D3 FARMASI
UNIVERSITAS BENGKULU
TAHUN AKADEMIK 2020/2021


BAB I

 

A.    TUJUAN

Praktium kali ini bertujuan untuk mempelajari tata cara mengisolasi bakteri sehingga bisa mendapatkan biakan murni.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

 

B.     LANDASAN TEORI

 

Media berfungsi untuk menumbuhkan mikroba, isolasi, memperbanyak jumlah, menguji sifat - sifat fisiologi dan perhitungan jumlah mikroba, di mana dalam proses pembuatannya harus disterilisasi dan menerapkan metode aseptis untuk menghindari kontaminasi pada media(Volk,1993).

Medium nutrient agar berfungsi untuk membiakan berbagai macam mikroorganisme serta kultur bakteri. Menurut Wati (2013) mikroba yang hidup di alam terdapat sebagai populasi campuran dari bebagai jenis mikrobia yang berbeda prinsip dari isolasi mikrobia dalam memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba lainnya dari lingkungannya di alam dan ditumbuhkan dalam medium buatan. Pertumbuhan mikroba dapat dilakukan dalam medium padat, karena dalam medium padat sel-sel mikroba akan terbentuk suatu koloni sel yang tetap pada tempatnya.

Populasi mikroorganisme yang ada di alam sekitar kita ini sangatlah besar dan cukup kompleks. Beratus spesies mikroba menguasai setiap bagian tubuh kita seperti mulut, saluran pencernaan dan kulit. Mereka terdapat dalam jumlah yang cukup besar. Sebagai contoh, sekali kita bersin dapat menebarkan beribu- ribu mikroorganisme. Udara, tanah, dan air yang merupakan komponen alam sebagai tempat tinggal kita juga dihuni oleh beragam mikroorganisme. Jenis mikroorganismenya dapat berupa bakteri, khamir, kapang dan sebagainya. Populasi dari mikroba yang ada di lingkungan ini sangatlah beraneka ragam dan masih dalam bentuk campuran Oleh karena itu, di dalam penelaahan terhadap suatu mikroorganisme, selain ditumbuhkan juga perlu dilakukan isolasi. Isolasi mikroba berarti memisahkan satu jenis mikroba dari biakan campuran menjadi satu biakan murni (populasi sel yang semuanya berasal dari satu sel induk) Penelitian yang layak mengenai mikroorganisme dalam berbagai habitat ini memerlukan teknik untuk memisahkan populasi campuran yang rumit ini, atau yang biasanya dikenal dengan istilah biakan campuran, menjadi spesies yang berbeda- beda yang dikenal dengan istilah biakan murni, dengan kata lain terdiri dari beberapa jenis mikroorganisme atau belum murni. Biakan murni ini terdiri dari satu populasi sel yang semuanya berasal dari satu sel induk (Hans, 1996).

Terdapat berbagai cara mengisolasi mikroba, yaitu: isolasi pada agar cawan, isolasi pada medium cair, dan Isolasi sel tunggal. 1) Isolasi pada agar cawan Prinsip isolasi pada agar cawan adalah mengencerkan mikroorganisme sehingga diperoleh individu spesies yang dapat dipisahkan dari organisme lainnya. Setiap koloni yang terpisah yang tampak pada cawan tersebut setelah inkubasi berasal dari satu sel tunggal. Terdapat beberapa cara dalam metode isolasi pada agar cawan, yaitu: Metode gores kuadran, dan metode agar cawan tuang Metode gores kuadran. Bila metode ini dilakukan dengan baik akan menghasilkan terisolasinya mikroorganisme, dimana setiap koloni berasal dari satu sel. Metode agar tuang Berbeda dengan metode gores kuadran, cawan tuang menggunakan medium agar yang dicairkan dan didinginkan (50oC), yang kemudian dicawankan. Pengenceran tetap perlu dilakukan sehingga pada cawan yang terakhir mengandung koloni-koloni yang terpisah di atas permukaan/di dalam cawan. 2) Isolasi pada medium cair Metode ini dapat dilakukan apabila mikroorganisme tidak dapet tumbuh pada agar cawan. Metode ini juga perlu dilakukan pengenceran dengan beberapa kali pengenceran. Semakin tinggi pengenceran peluang untuk mendapatkan satu sel semakin besar. 3) Isolasi sel tunggal Metode ini dilakukukan apabila mikroorganisme berukuran besar dan tidak dapat diisolasi dengan metode agar cawan atau medium cair. Sel mikroorganisme dilihat dengan menggunakan perbesaran sekitar 100 kali. Kemudian sel tersebut dipisahkan dengan menggunakan pipet kapiler yang sangat halus ataupun micromanipulator, yang dilakukan secara aseptis (gandjar, 2006).

Cara infeksi dari mikroorganisme penyebab pembusukan dapat berbeda yang dat dibagi manjadi tiga, yaitu; 1) infeksi laten, 2) infeksi melalui luka setelah panen, 3) infeksi langsung pada produk utuh. Infeksi laten adalah cara infeksi yang dilakukan saat produk masih dikebun tumbuh bersama tanaman induknya. Padakondisi dimana produk masih di kebun umumnya masa mikroorganisme pembusuk tidak dapat tumbuh dan berkembang tetapi dalam keadaan dorman (Nazaruddin. 2000).

Infeksi mikroba pembusuk bisa terjadi sebelum atau sesudah panen Infeksi sebelum panen dikenal sebagai latent infection dimana mikroba masuk ke jaringan sel sehat sewaktu inang masih muda dan dormansi sampai komoditi dipanen. Pertumbuhan sel mikroba mulai berlangsung saat komoditi mengalami perubahan struktur jaringan sel akibat ripening atau kelewat masak sehingga jaringan sel mudah dirusak oleh mikroba pembusuk sebagai akibat kandungan gizi komoditi (Utama, S, 2006).

Faktor-faktor utama bagi perkembangan penyakit pasca penen komoditi hortikultura adalah inang (tanaman), penyebab penyakit (microorganisme) dan lingkungan.Peristiwa pembusukan pada sayuran dan buah dapat disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme seperti jamur dan bakteri. Mikrobia yang tumbuh dalam komoditi satu denganyang lainnya sangat berbeda sekali. Dalam hasil pertanian tersebut tidak jarang yang gagal dalam panen. Mikroba yang tumbuh pada sayur dan buah terutama saat pascapanen sangat tidak baik. Maka dari itu, perlu adanya usaha agar sayur dan buah yang dipanen bebas dari mikroba sehingga layak dikonsumsi. Produk holtikultura seperti sayur pada umumnya tidak memiliki daya simpan yang lebih lama dibandingkan dengan yang buah-buahan. Dan sayuran biasanya tidak di perlakukan dalam penyimpanannya akan tetapi hanya di tempatkan pada suhu yang rendah, sedagkan untuk buah-buahan dalam mencegah terjadinya pencepatan pembusukan dapat dilakukan dengan pelapisan lilin, pengemasan dan lain-lain hal ini juga bertujuan untuk mencegah masuknya atau menempelnya bakteri dan jamur yang dapat menyebabkan rusaknya buah-buahan.

Media   biaka yang   mampu mendukung optimalisasi pertumbuhan milroorganisme harus dapat memenuhi persyaratan nutrisi bagi mikroorganisme. unsur tersebut berupa garam organik, sumber energy (karbon), vitamin dan zat pengatur tumbuh (ZPT). Selain itu dapat pula ditambahkan komponen lain seperti senyawa organik dan senyawa kompleks lainnya (Suardana dkk, 2014).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

C.    ALAT DAN BAHAN

 

ALAT :

1.      Vortex mixer 

2.      Timbangan digital

3.      Rak & Tabung Reaksi 

4.      Cawan Petri

5.      Spatel

6.      Kertas label

7.      Autoklaf

8.      Gelas ukur

9.      Pipet tetes

10.  Alumunium foil

11.  Bunsen

 

 

BAHAN :

1.      Sampel sayuran ( sawi )

2.      Aquadest

3.      Nutrient agar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

 

D.    PROSEDUR PERCOBAAN

 

LANGKAH KERJA :

1.      Sterilisasikan alat terlebih dahulu sebelum dipakai untuk Melakukan pengujian.

2.      Timbang Sempel sayur (sawi) sebanyak 10gram menggunakan timbangan digital.

3.      siapkan alat 200ml . Ukur menggunakan gelas ukur.

4.      kemudian tuangkan aquadest kedalam beaker glass sebanyak 10ml , lalu masukan sempel sayur yang sudah di potong-potong kedalam gelas ukur yang merupakan sempel 10 pangkat 1 .

5.      kemudian homogenkan sampel sayur menggunakan fortex mixer.

6.      ambil pipet tetes yang sudah disterilkan. Lalu ambil tabung reaksi dan masukan dalam rak tabung reaksi.

7.      sampel 10-¹ dimasukan kedalam tabung reaksi menggunakan pipet tetes tandai                 sampel kemudian buat Sampel 10-² dengan cara ambil aquadest sebanyak 9ml letakan ke tabung reaksi dengan pipet tetes. kemudian tambahkan sampel 10-² kemudian homogenkan dan tandai sampel.

8.      kemudian buat sampel 10-³ dengan cara tuangkan Aquadest kedalam tabung reaksi sebanyak 9ml kemudian tambahkan sampel 10-² sebanyak 1ml kemudian homogenkan lalu tandai sampel .

9.      lalu buat sampel air 10-² dengan cara tuangkan Aquadest kedalam tabung reaksi sebanyak 9ml kemudian tambahkan 1ml  sampel 10-¹ kemudian homogenkan lalu tandai sampel.

10.  kemudian siapkan cawan petri sebanyak 6buah tandai dengan kertas label sesuai dengan sampel selanjutnya ambil NA dan bagi kedalam cawan petri secukupnya tunggu sampai mengental.

11.  Ambil Sempel sayur 10-¹ tuangkan sedikit keatas NA yang ada di cawan petri sampai merata dengan teknik. Tuangkan sesuai dengan label , ambil Lebel 10-² lakukan terus sampai sampel 10-³.

12.  Tutup cawan petri masukan kedalam inkubator selama 1x24jam untuk menunggu        perkembangan bakteri.

 

 

 

 

 

 

BAB V

E.     HASIL DAN PEMBAHASAN

·         HASIL

 

AIR

SAYUR

 



 

 




 





 

·         PEMBAHASAN

Ada beberapa metode dalam mengisolasi mikroba bakteri (mikroorganisme)yaitu dengan menggunakan metode gores, metode tuang, metode sebar, metode pengenceran dan agar miring. Metode-metode ini berdasarkan pada prinsip yang sama yaitu mengencerkan organisme sedemikian rupa sehingga tiap individu spesies dapat dipisahkan dengan lainnya. Prkatikum ini bertujuan untuk mempelajari teknik-teknik di dalam pengisolasian mikroba beserta pemurniannya.

     Pengenceran ini bertujuan untuk mempermudah dalam perhitungan jumlah koloni mikroba yang utmbuh, baik warna maupun karakteristik lainnya. Dari hasil praktiukum dapat diketahui bahwa bentuk, tepian, warna dan wlwvasi dari bakteri. Untuk bakteri, bentuknya ada yang bundar, rizoid, tidak beraturan dan menyebar dengan yang tepian siliat, berlekuk, bercabang, berombak, dan licin. Warna yang dapat dilihat dari koloni bakteri pada sampel ini adalah semua berwarna putih susu dan elevasi pada semua sampel ini datar da nada pula yang cembung.

      Koloni - koloni yang telah ditentukan pada masing- masing medium kemudian diidentifikasi morfologinya yaitu bentuk luar, warna, struktur dalam koloni, tepi koloni, elevasi. Pada masing-masing media sendiri terdapat keanekaragaman dalam morfologi tersebut. Koloni bakteri dapat dengan mudah dibedakan dari koloni lainnya dengan adnya penampakan umum berupa lender dan agak mengkilap. Bakteri adalah salah satu contoh mikroorganisme yang penting dan memiliki bentuk yang beragam. Pada umumnya bakteri berhubungan dengan makanan. Adanya bakteri dalam bahan pangan dapat mengakibatkan pembusukan yang tidak diinginkan atau menimbulkan penyakit yang ditularkan melalui makanan atau dapat melangsungkan fermentasi yang menguntungkan.

     Kontaminasi dalam praktikum isolasi dan pemurnian mikroba dapat mungkin terjadi jika kondisi dari alat, bahan maupun prkatikan tidak steril. Oleh karena itu dalam setiap prosedur kerja, baik saat pengenceran ataupun saat menyebar mikroba ke dalam medium perlu kehati-hatian agar tidak terjadi kontaminasi yang dapat merusak hasil percobaan. Setiap pada prkatikum kali ini, semua cawan biakan bahkan cawan control pun terkontaminasi hal ini dibuktikan pada cawan control terdapat koloni-koloni bakteri. Kemampuan mikroorganisme untuk tumbuh dan tetap hidup merupakan suatu hal yang penting untuk diketahui. Pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba sangat penting didalam mengendalikan mikroba. Berikut ini faktor-faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba sangat penting di dalam mengendalikan mikroba.   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VI

 

F.     KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN :

1.      Hasil pemeriksaan mikroorganisme pada sayur dan air, tiap sayur maupun

air ditumbuhi mikroorganisme.

2.      Hasil dari penggunaan metode swab, mikroorganisme yang diisolasi berada pada permukaan sampel, sehingga sawi dan air yang memiliki zat anti bakteri maupun  anti  jamur  masih  dapat  ditumbuhi  mikroorganisme,  dikarenakan  pada bagian  permukaan  sayur  maupun  air  tidak  mengandung  zat  tersebut,  yang menyebabkan dapat ditumbuhi oleh mikroorganisme.

SARAN :

Saran yang dapat di ajukan adalah agar dalam praktikum selanjutnya sebaiknya praktikan memeriksa atau mencek terlebih dahulu peralatan-peralatan yang akan digunakan untuk praktikum agar pada saat mengoperasikan alat benar-benar secara maksimal dan praktikan tidak kebingungan dalam penggunaannya saat praktikum. Dan praktikum harus lebih tertib lagi dalam menjalankan praktikum agar bisa mendapatkan hasil yang lebih baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ajlouni Said,dkk. 2006. Ultrasonication and Fresh Produce (Cos Lettuce) Preservation.

Journal of Food Science vol 71 Nr.2. Published on Web Institute of Food Technologists. JFS Food Microbilogy andSafety.

Sandjaja B. 1994. Isolasi dan Identifikasi Mikroba. Jakarta : widiya medika

Schagel, Hans G. 1996. Mikrobiologi Umum. Jogja : gajah mada

Sutedjo, Mul Mulyani. 1996. Mikrobiologi Tanah. Rineka Cipta : Jakarta

Sopandi, T & Wardah. (2014). Mikrobiologi Pangan Teori dan Praktik. Yogyakarta: Andi