Selasa, 23 Maret 2021

LAPORAN PEMBUATAN MEDIA PEWARNAAN BAKTERI

 


LAPORAN PEMBUATAN MEDIA PERWARNAAN BAKTERI

 

 

 





 

 

DISUSUN OLEH :

              NAMA           :  ANNISYA ZAHARA

              NPM              : F0I020048

              KELAS          : 1B

NAMA DOSEN : SUCI RAHMAWATI, S.Farm, Apt, M.Farm

 

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI

PROGRAM STUDI D3 FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS BENGKULU

TAHUN AKADEMIK 2021/2022




BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1   Tujuan Praktikum

 Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :

     1.      Mempelajari cara membuat olesan bakteri yang dibutuhkan dalam pewarnaan bakteri.

     2.      Mempelajari prosedur pewarnaan sederhana dan gram (differensial) serta mengetahui reaksi kimia yang terjadi dalam proses pewarnaan bakteri




BAB II

Landasan teori

 

2.1 Pengertian pewarnaan bakteri

Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan sifat-sifat yang khas begitu pula dengan bakteri. Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri yang ada di suspensikan. Salah satu cara unutk mengamati bentuk sel bakteri sehingga mudah di identifikasi adalah dengan cara metode pengenceran atau pewarnaan. Hal tersebut berfungsi untuk mengetahuisifat fisiologisnya  yaitu mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian pengecetan atau pewarnaan.

Melihat dan mengamati bakteri dalam keadaan hidup sangat sulit, karena selain bakteri itu tidak berwarna juga transparan dan sangat kecil. Unutk mengatasi hal tersebut maka dikembangkan suatu teknik pewarnaan sel bakteri sehingga sel dapat terlihat jelas dan mudah diamati. Oleh karena itu teknik pewarnaan sel bakteri ini merupakan salah satu cara yang paling utama dalam penelitian-penelitian mikrobiologi (Dwidjoseputro, 1998).

Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan praktikum kali ini unutk mengetahui teknik pewarnaan mikroorganisme baik itu dengan cara pewarnaan sederhana, pengenceran negative, maupun pengenceran gram serta mengetahui morfologi mikroorganisme (Sutedjo, 1991).

Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang mikroorganisme yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang untuk meneliti apa saja yang terkandung di dalam mikroorganisme. Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan sifat-sifat yang khas, begitu pula dengan bakteri. Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan. Salah satu cara untuk mengamati bentuk sel bakteri sehingga mudah untuk diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau pewarnaan. Hal tersebut juga berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologisnya yaitu mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian pewarnaan.

Pewarnaan gram merupakan salah satu prosedur yang paling banyak digunakan untuk mencirikan banyak bakteri. Dari pewarnaan gram dapat diketahui morfologi sel antara lain sifat gram, bentuk sel, dan penataan sel. Pewarnaan gram atau metode gram adalah suatu metode empiris untuk membedakan spesies bakteri menjadi dua kelompok besar, Gram positif dan gram negatif, berdasarka sifat kimia dan fisika dinding sel mereka, metode ini diberi nama berdasarkan penemunya, ilmuwan denmark hans Christian gram 1884. Pewarnaan Gram dibagi menjadi dua yaitu pewarnaan majemuk karena menggunakan lebih dari satu macam zat warna. Dan pewarnaan diferensial karena pewarnaan ini mampu mengdeferensiasi atau membedakan bakteri, sehingga bakteri dapat digolongkan menjadi dua yaitu Gram negatif dan Gram positif.

Teknik pewarnaan gram haruslah sesuai prosedur karena dapat mengakibatkan kesalahan identifikasi data apakah gram positif atau gram negatif sehingga diperlukan adanya praktikum ini dilakukan agar mengetahui jalannya mekanisme pewarnaan gram.

Bakteri memiliki beberapa bentuk yaitu basil (tongkat), coccus, spirilum. Bakteri yang berbentuk tongkat maupun kokus dibagi menjadi beberapa macam. Pada bentuk basil pembagiannya yaitu basil tunggal, diplobasil, dan tripobasil.Sedangkan pada coccus dibagi menjadi monococcus, diplococcus, sampai stophylococcus. Khusus pada spirilum hanya dibagi dua yaitu setengah melengkung dan melengkung (Dwidjoseputro,1998).

Melihat dan mengamati bakteri dalam kedaan hidup sangat sulit, karena selain bakteri itu tidak berwarna juga transparan dan sangat kecil. Untuk mengatasi hal tersebut maka dikembangkan suatu teknik pewarnaan sel bakteri ini merupakan salah satu cara yang paling utama dalam penelitian-penelitian mikrobiologi (Dwidjoseputro,1998)

Teknik Pewarnaan bukan pekerjaan yang sulit tapi perlu ketelitian dan kecermatan bekerja serta mengikuti aturan dasar yang berlaku (Lay,1994)

Menurut Pelzar et al (2005), macam-macam pewarnaan antara lain pewarnaan sederhana yaitu dengan menggunakan larutan tunggal suatu pewarna pada lapisan tipis yang sudah di fiksasi. Pewarnaan differentsial yaitu prosedur pewarnaan yang menampilkan perbedaan diantara sel-sel mikroba atau bagian-bagian sel mikroba dari pewarnaan gram adalah teknik pewarnaan differensial digunakan untuk bakteri.

Menurut Hadioetomo (1991), dalam pewarnaan gram diperlukan empat reagen yaitu :

·         Zat warna utama (violet kristal)

·         Mordan (larutan Iodin) yaitu senyawa yang digunakan untuk mengintensifkan warna utama.

·         Pencuci / peluntur zat warna (alcohol / aseton) yaitu solven organic yang digunakan uantuk melunturkan zat warna utama.

·         Zat warna kedua / cat penutup (safranin) digunakan untuk mewarnai kembali sel-sel yang telah kehilangan cat utama setelah perlakuan denga alcohol.

Adakala suatu perlu diwarnai dua kali setelah zat warna yang pertama (ungu) terserap, maka sediaan dicuci dengan alkohol, kemudian ditumpangi dengan zat warna yang berlainan, yaitu dngan zat warna merah. Jika sediaan itu kemudian kita cuci dengan air lau dengan alkohol maka dua kemungkinan dapat terjadi. Pertama, zat tambahan terhapus, sehingga yang tampak ialah zat warna asli (ungu). Dalam hal ini sediaan (bakteri) kita sebut gram positif. Kedua zat warna tambahan (merah) bertahan hingga zat warna asli tidak tampak. Dalam hal ini sediaan (bakteri) jika kita katakana gram negatif (Dwidjoseputro, 1998)

Bakteri gram negative adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat warna metil ungu pada metode pewarnaan Gram. Bakteri gram positif akan mempertahankan warna ungu gelap setelah dicuci dengan alcohol, sementara bakteri gram negative tidak.

Bakteri gram positif adalah bakteri yang mempertahankan zat warna metil ungu sewaktu proses pewarnaan Gram. Bakteri jenis ini akan berwarna biru atau ungu di bawah mikroskop, sedangkan bakteri gram negative akan berwarna merah muda. Perbedaan klasifikasi antara kedua jenis bakteri ini terutama didasarkan pada perbedaan struktur dinding sel bakteri (Aditya,2010)

Bakteri gram negatif memiliki 3 lapisan dinding sel. Lapisan terluar yaitu lipoposakarida (lipid) kemungkinan tercuci oleh alkohol, sehingga pada saat diwarnai dengan safranin akan berwarna merah. Bakteri gram positif memiliki selapis dinding sel berupa peptidoglikan yang tebal. Setelah pewarnaan dengan kristal violet, pori-pori dinding sel menyempit akibat dekolorisasi oleh alkohol sehingga dinding sel tetap menahan warna biru (Fitria, 2009).




BAB III

Alat Dan Bahan  


  *. Alat Praktikum

 jarum ose

 bunsen        

  botol semprot

        tisu

 Kaca preparat

   cover glass

 Dan mikroskop majemuk

  -  *  bahan  Praktikum

·         biakan bakteri

·         larutan krista violet

·         larutan safranin

·         alkohol 95º

·         dan aquades






BAB IV

Prosedur kerja

 

 

4.1  Adapun cara kerja dari praktikum iniadalah :

1.1Pewarnaan Sederhana

Biakan bakteri yang akan diamati disiapkan

Biakan bakteri diambil menggunakan jarum ose, kemudian disebarkan di atas kaca preparat yang telah diberi satu tetes air.

Bakteri disebarratakan lalu dikering anginkan.

Bakteri difiksasi dengan cara, kaca preparat dilewatkan beberapa kali di atas bunsen

Krista violet diteteskan di atas olesan bakteri dan didiamkan selama 1 menit.

Krista violet dibilas dengan menggunakan aquades, kemudian dikeringkan dengan cara diusap menggunakan tisu secara perlahan.

Kaca preparat ditutup menggunakan coverglass.

Preparat diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 100x.

 

1.2 Pewarnaan Gram

 

Biakan bakteri yang akan diamati disiapkan Biakan bakteri diambil dengan menggunakan jarum ose, dan disebarratakan di atas kaca preparat yang telah ditetesi air.

Bakteri difiksasi dengan cara, kaca preparat dilewatkan beberapa kali di atas bunsen

Kristal violet (pewarna primer) diteteskan di atas olesan bakteri dan didiamkan selama satu menit.

Kristal violet dibilas dengan menggunakan aquades

Diteteskan iodine, kemudian didiamkan selama 1-2 menit lalu kembali dibilas dengan aquades.

Alkohol 95% diteteskan kemudian didiamkan selama 30 detik lalu dibilas dengan aquades

Diteteskan safranin (pewarna tandingan), didiamkan selama 1 menit lalu dibilas dengan aquades, lalu dikeringkan dengan diusap perlahan menggunakan tisu.

Kaca preparat ditutup menggunakan coverglass.

Preparat diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 100x.





BAB V

Hasil dan pembahasan

 

 

3.1           5.1   Data Pengamatan

NO

GAMBAR

KETERANGAN

1







Pada pewarnaan sederhana

2

 



Pada pewarnaan gram

3



 


Pada pewarnaan sederhana

4







Pada pewarnaan gram

lll

3.2            5.1  Pembahasan

         A.         Bakteri

Bakteri berasal dari bahasa Latin bacterium; jamak: bacteria adalah kelompok organisme yang tidak memiliki membran inti sel. Organisme ini termasuk ke dalam domain prokariota dan berukuran sangat kecil (mikroskopik). Hal ini menyebabkan organisme ini sangat sulit untuk dideteksi, terutama sebelum ditemukannya mikroskop. Barulah setelah abad ke-19 (setelah ditemukannya mikroskop), ilmu tentang mikroorganisme terutama bakteri (bakteriologi) mulai berkembang.

Berdasarkan cara memperoleh makanannya, bakteri dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu bakteri heterotrof dan bakteri autotrof.

1.1 Bakteri Heterotrof 

Bakteri ini hidup dengan memperoleh makanan berupa zat organik dari lingkungannya karena tidak dapat menyusun sendiri zat organik yang dibutuhkannya. Zat organik diperoleh dari sisa-sisa organisme lain. Bakteri yang mendapatkan zat organik dari sampah, kotoran, bangkai dan juga sisa makanan, kita sebut sebagai bakteri saprofit. Bakteri ini menguraikan zat organik dalam makanan menjadi zat anorganik, yaitu CO2, H2O, energi dan mineral.

2.1  Bakteri Autotrof 

Bakteri Autotrof adalah bakteri yang dapat menyusun zat makanan sendiri dari zat anorganik yang ada. Dari sumber energi yang digunakannya, bakteri autotrof (auto = sendiri, trophein = makanan) dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
a). Bakteri fotoautrotof
Bakteri fotoautrotof yaitu bakteri yang memanfaatkan cahaya sebagai energi untuk mengubah zat anorganik menjadi zat organik melalui proses fotosintesis. Contoh bakteri ini adalah: bakteri hijau, bakteri ungu.
b). Bakteri kemoautrotof
Bakteri kemoautrotof adalah bakteri yang menggunakan energi kimia yang diperolehnya pada saat terjadi perombakan zat kimia dari molekul yang kompleks menjadi molekul yang sederhana dengan melepaskan hidrogen. Contoh bakteri ini adalah: Nitrosomonas. Nitrosomonas dapat memecah NH3 menjadi NH2, air dan energi (Sulaiman, 2014).

Di samping terdapat bakteri yang dikelompokkan berdasarkan cara mendapatkan makanan, ada juga penggolongan bakteri berdasarkan sumber oksigen yang diperlukan dalam proses respirasi. Bakteri itu dikelompokan sebagai berikut:
1. Bakteri aerob
yaitu bakteri yang menggunakan oksigen bebas dalam proses respirasinya. Misal: Nitrosococcus, Nitrosomonas dan Nitrobacter.
2. Bakteri anaerob
yaitu bakteri yang tidak menggunakan oksigen bebas dalam proses respirasinya. Misal: Streptococcus lactis.

Pada umumnya bakteri dibagi menjadi tiga golongan besar (berdasarkan bentuknya) yaitu:

1. Kokus (Coccus) adalah bakteri yang berbentuk bulat seperti bola dan mempunyai beberapa variasi sebagai berikut:

- Mikrococcus, jika kecil dan tunggal
- Diplococcus, jka berganda dua-dua
- Tetracoccus, jika bergandengan empat dan membentuk bujur sangkar
- Sarcina, jika bergerombol membentuk kubus
- Staphylococcus, jika bergerombol
- Streptococcus, jika bergandengan membentuk rantai

2. Basil (Bacillus) adalah kelompok bakteri yang berbentuk batang atau silinder, dan mempunyai variasi sebagai berikut:

- Diplobacillus, jika bergandengan dua-dua
- Streptobacillus, jika bergandengan membentuk rantai

3. Spiral (Spirilum) adalah bakteri yang berbentuk lengkung dan mempunyai variasi sebagai berikut:

- Vibrio, (bentuk koma), jika lengkung kurang dari setengah lingkaran (bentuk koma)
- Spiral, jika lengkung lebih dari setengah lingkaran
- Spirochete, jika lengkung membentuk struktur yang fleksibel (Sulaiman, 2014).

Bakteri memiliki beberapa bentuk yaitu basil (tongkat), coccus, spirilum. Bakteri yang berbentuk tongkat maupun kokus dibagi menjadi beberapa macam. Pada bentuk basil pembagiannya yaitu basil tunggal, diplobasil, dan tripobasil.Sedangkan pada coccus dibagi menjadi monococcus, diplococcus, sampai stophylococcus. Khusus pada spirilum hanya dibagi dua yaitu setengah melengkung dan melengkung. Melihat dan mengamati bakteri dalam kedaan hidup sangat sulit, karena selain bakteri itu tidak berwarna juga transparan dan sangat kecil. Untuk mengatasi hal tersebut maka dikembangkan suatu teknik pewarnaan sel bakteri ini merupakan salah satu cara yang paling utama dalam penelitian-penelitian mikrobiologi (Dwidjoseputro.1998).

B.      3.1    Pewarnaan sederhana

Tujuan dari pewarnaan sederhana adalah mengidentifikasi morfologi sel bakteri dengan menggunakan zat warna tunggal. Prinsipnya yaitu  pewarnaan ini hanya menggunakan satu macam zat warna saja. Sebelum zat warna difiksasi terlebih dahulu pewarnaan ini dipakai untuk melihat bentuk-bentuk bakteri. Zat warna yang di gunakan adalah Methylen blue, Crystal violet, basic fuchin atau safranin. Fungsi zat warna: Crystal violet merupakan pewarna primer (utama) yang akan memberi warna mikrioorganisme target. Crystal violet bersifat basa sehingga mampu berikatan dengan sel mikroorganisme yang bersifat asam (Sutedjo, 1991).

C.        4.1    Pewarnaan Negatif

Tujuan dari pewarnaan negatif adalah untuk mengetahui bentuk mikroba dengan pewarnaan-pewarnaan tidak langsung. Prinsip pewarnaan negatif adalah cara pengamatan mikrobiologi yang dapat di lakukan untuk membedakan spesies kecil dan cairan optiknya. Pewarnaan ini merupakan pewarnaan yang di gunakan untuk melihat secara tidak langsung, karena yang diwarnai adalah latar belakangnya, sedangkan bakterinya sendiri tidak mengalami pewarnaan. Pada pewarnaan ini tidak di lakukan fiksasi karena itu dapat digunakan untuk melihat bentuk-bentuk sel yang sesungguhnya dan untuk menentukan ukuran bakteri, karena bakteri praktis tidak mengalami perubahan. Berbeda dengan pewarnaan lain, pewarnaan negatif memungkinkan bakteri terlihat transparan dan tampak jelasFungsi zat warna: Safranin merupakan pewarnaan tandingan atau pewarna skunder, zat ini berfungsi untuk mewarnai sel-sel yang telah kehilangan warna utama dengan kata lain memberikan warna pada bakteri non target (Pelczar, 2007).

D.         5.1  Pewarnaan Gram

Tujuan dari pewarnaan gram adalah untuk melakukan pengamatan morfologi bakteri dengan pewarnaan diferensial. Prinsip pewarnaan gram termasuk pewarnaan diferensial (untuk membedakan) karna dapat membedakan bakteri-bakteri yang bersifat gram negatif dan positif. Pewarnaan ini ditemukan pertama kali pada tahun 1884 oleh Criestian Gram. Bakteri garam positif  ialah bakteri yang mengikat warna utama (crystal violet) dengan kuat sehingga tidak dapat di lunturkan oleh peluntur dan tidak diwarnai lagi oleh zat warna lawan (safranin) pada mikroskop sel-sel bakteri tampak berwarna ungu. Bakteri gram negatif  ialah bakteri yang mempuyai daya mengikat zat warna utama tidak kuat sehingga dapat dilunturkan oleh  peluntur dan dapat diwarnai oleh zat warna lawan (safranin) pada pengamatan mikroskop sel-sel bakteri tampak berwarna merah. Fungsi zat warna:

Crystal violet yang berfungsi membentuk ikatan mg-Ribonucleid acid pada membran/dinding sel bakteri sehingga membentuk kompleks mg-Ribonucleid acid- crystal violet. Kompleks ini merupakan senyawa yang tidak luntur dengan alkohol.

Lugol’s ladin yang berfungsi sebagai penguat ikatan pada kompleks mg-Ribonuclead acid. Alkohol 95% berfungsi mencuci lemak pada dinding sel bakteri.

Safranin berfungsi sebagai zar warna tandingan (lawan) luruh nya kompleks mg-Ribonucleid acid- crystal violet dari dinding sel bakteri gram negatif (Pelczar, 2007)

          E.            Minyak Imersi

Imersi minyak merupakan teknik yang digunakan pada saat kita akan mengamati preparat mikroskopik dengan perbesaran yang besar (10x100 misalnya). Bahan yang digunakan saat melakukan teknik tersebut adalah minyak imersi. Teknik tersebut dilakukan dengan cara mengoleskan minyak di lensa objektif dan preparat yang akan kita amati. Minyak imersi memiliki indeks refraksi yang tinggi dibandingkan dengan air atau udara sehingga objek yang kita amati dapat terlihat lebih jelas dibandingkan dengan tanpa minyak imersi (Alata, 2012).

          F.             Hasil Pengamatan

Pada percobaan kali ini terdapat dua jenis pewarnaan, yaitu : pewarnaan gram dan pewarnaan sederhana. Pada percobaan sederhana Biakan bakteri yang akan diamati disiapkan kemudian biakan bakteri diambil menggunakan jarum ose, dan disebarkan di atas kaca preparat yang telah diberi satu tetes air.kemudian, bakteri disebarratakan lalu dikering anginkan.Bakteri difiksasi dengan cara, kaca preparat dilewatkan beberapa kali di atas bunsen Krista violet diteteskan di atas olesan bakteri dan didiamkan selama 1 menit. Krista violet dibilas dengan menggunakan aquades, kemudian dikeringkan dengan cara diusap menggunakan tisu secara perlahan. Kaca preparat ditutup menggunakan coverglass. Kemudian Preparat diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 100x dengan minyak imersi. Pada pewarnaan sederhana ini ditemukan bakteri dengan bentuk bulat dan berwarna ungu.

Sedangkan pada pewarnaan gram dilakukan dengan cara : Biakan bakteri yang akan diamati disiapkan, diambil dengan menggunakan jarum ose, dan disebarratakan di atas kaca preparat yang telah ditetesi air. Bakteri difiksasi dengan cara, kaca preparat dilewatkan beberapa kali di atas bunsen lalu

Kristal violet (pewarna primer) diteteskan di atas olesan bakteri dan didiamkan selama satu menit. Kemudian kristal violet dibilas dengan menggunakan aquades

Diteteskan iodine, kemudian didiamkan selama 1-2 menit lalu kembali dibilas dengan aquades. Alkohol 93% diteteskan kemudian didiamkan selama 30 detik lalu dibilas dengan aquades. Diteteskan safranin (pewarna tandingan), didiamkan selama 1 menit lalu dibilas dengan aquades, lalu dikeringkan dengan diusap perlahan menggunakan tisu. Kaca preparat ditutup menggunakan coverglass. kemudian preparat diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 100x.




IV.             KESIMPULAN

6.1 Adapun kesimpulan yang dapat diambil  dari praktikum ini adalah :

  1. Pewarnaan sederhana hanya dapat digunakan dalam mengamati morfologi bakteri.
  2. Bakteri dapat dibedakan melalui teknik pewarnaan gram. teknik pewarnaantersebut dapat menghasilkan warna merah dan ungu.
  3. Bakteri gram negatif ditandai dengan pewarnaan merah, sedangkan yang positif berwarna ungu.
  4. Bakteri yang ditemukan pada pewarnaan sederhana berbentuk bulat.
  5. Minyak imersi dapat membantu dalam pengamatan dengan perbesaran 100x.

 

6.2 saran 

Pada praktikum ini disarankan kepada praktikan untuk lebih menjaga kebesihan dilaboratorium saat akan melaksanakan praktikum supaya pengujian yang dilakukan bisa berhasil untuk mengurangi kegagalan.




DAFTAR PUSTAKA

 

          Alata.2012.Minyak Imersihttps://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20121106153845AAsYPMs. Diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukul 05.15 WIB.

Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan

Pelczar, M.J.2007. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : UI Press.

           Sulaiman.2014. Materi Lengkap Tentang Bakteri.

          http://sulaiman-analisis.blogspot.com/2014/04/bakteri-materi-lengkap-tentang-bakteri.html?m=1. Diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukul 05.15 WIB.

Sutedjo, M.1991. Mikrobiologi Tanah. Jakarta : Rhineka Cipta.Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar